<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mgr. Anton Pain Ratu SVD &#8211; Kabar NTT</title>
	<atom:link href="https://kabarntt.id/tag/mgr-anton-pain-ratu-svd/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<description>Kompeten, Kritis, Kredibel</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Jan 2024 23:30:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://kabarntt.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-icon-situs-e1738830134956-32x32.png</url>
	<title>Mgr. Anton Pain Ratu SVD &#8211; Kabar NTT</title>
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mgr. Anton Pain Ratu, SVD: &#8220;Kualinya Masih Kotor&#8221;</title>
		<link>https://kabarntt.id/tokoh-kita/mgr-anton-pain-ratu-svd-kualinya-masih-kotor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2024 23:20:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Anton Pain Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Mgr. Anton Pain Ratu SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Atambua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=23321</guid>

					<description><![CDATA[<p>BEGITULAH komentar Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, tentang lembaga legislatif saat ini. Keras memang. Dan,&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/tokoh-kita/mgr-anton-pain-ratu-svd-kualinya-masih-kotor/">Mgr. Anton Pain Ratu, SVD: &#8220;Kualinya Masih Kotor&#8221;</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BEGITULAH</strong> komentar Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, tentang lembaga legislatif saat ini. Keras memang. Dan, itulah yang mencirikan Mgr. Anton  setiap kali angkat bicara. Pengalamannya sekitar enam tahun menjadi anggota DPR Gotong Royong di Timor Tengah Utara (TTU), waktu lalu, membuatnya sangat paham dan mengerti tentang lika liku dunia politik berikut &#8216;remah-remah&#8217;-nya.</p>
<p>Kepada wartawan <em>Pos Kupang</em>, <strong>Tony Kleden, </strong>yang menemuinya di Istana Uskup Atambua, Lalian Tolu, Selasa (23/2/2004), pekan lalu, Mgr. Anton banyak menyoroti masalah sosial politik berikut konstelasi politik saat ini. Ikuti petikan wawancara dengannya berikut ini.</p>
<p><strong><em>Tanpa bermaksud membuat perbandingan, Bapak Uskup merupakan salah seorang pemimpin </em></strong><strong><em>G</em></strong><strong><em>ereja Katolik di NTT ini yang tampaknya lebih sering bersuara membela kepentingan masyarakat, terutama di bidang sosial politik. Mungkin ada sesuatu yang mendorong?</em></strong></p>
<p>Ya, kalau dari analisa sederhana, yaitu orang dari keluarga rapat saya, mereka hanya bilang begini, <em>helo ama</em> (seperti bapak, <strong>Red)</strong>. Mungkin itu yang paling dasar. Dan saya coba melihat ke belakang, sedikit melihat sejarah. Saya ditahbiskan menjadi imam tahun 1958. Tahun 1959 saya tiba di Eban, Timor Tengah Utara (TTU). Sebagai seorang imam muda, saya tiba di suatu daerah yang baru, apalagi dengan bahasa yang sama sekali baru buat saya. Tetapi, tahun 1960, dengan sedikit dana dari luar negeri, bersama umat kami membangun satu gereja di OEolo. Ketika kita sidang, umat minta agar ada gereja. Saya bilang, orangtua saya seperti orangtua kamu, saya tidak punya uang. Jadi, kalau kita ingin bangun gereja, kita kumpul uang sama-sama. Saya tidak ada uang dari luar negeri. Kami akhirnya mulai membangun. Natal tahun 1960 kami sidang, kami sepakat untuk sama-sama bangun, kumpul bahan, pasir, kayu. Semua pikul, tidak ada kendaraan waktu itu. Tahun lalu, gereja itu sudah empat puluh tahun usianya, tetapi belum rusak apa-apa. Gereja itu dibangun oleh tukang yang sederhana, tetapi masih baik dan berdiri sampai sekarang.  Jadi, orang selalu bilang, <em>helo ama</em>. Bapak saya di kampung juga seorang tukang yang bangun rumah. Dulu kami tinggal di gunung, di Lamawolo asli (desa di kaki Gunung Boleng, Adonara, Flotim).  Tiap kali kita mesti turun naik timba air satu sumur di Desa Longot (desa di dekat pantai). Sesudah perang kita pindah ke bawah, rumah kita menjadi satu-satunya. Tetapi akhirnya semua orang pindah ke bawah dan bangun rumah lengkap dengan teras-terasnya. Jadi, mesti ada orang yang tahu atur. Dan, memang dia (bapak) juga atur bahwa kerja bangun rumah itu tidak boleh makan biaya banyak. Selesai dulu baru bunuh  babi satu kali. Jangan baru bangun fondasi, potong babi. Dia bilang, kita mesti ingat orang kita ini supaya bisa sekolah. Mungkin ini juga mempengaruhi saya, bahwa dia memperhatikan orang lain, orang kecil. Meski sederhana, tetapi hemat biaya. Ada tradisi organisasi, yaitu gotong royong.</p>
<p><strong><em>Apakah Bapak Uskup juga menyadari atau merasa bahwa Bapak Uskup sering tampil di publik membela kepentingan banyak orang?</em></strong></p>
<p>Tidak, saya tidak merasa apa-apa. Saya merasa itu hal yang biasa-biasa saja. Kalau saya lihat ada yang tidak betul, saya omong, seperti bapak saya itu. Kalau ada  yang curi, dia akan tegur. Kebetulan dia adalah kepala desa, sehingga di kampung tidak ada pencuri.</p>
<p><strong><em>Karena sering tampil bersuara di bidang sosial politik itu, ada yang mengatakan, Uskup Atambua itu seorang uskup nasionalis, karena memperhatikan hal-hal yang mungkin tidak secara langsung terkait dengan gereja&#8230;&#8230;</em></strong></p>
<p>Terkait kok&#8230;. Gereja itu mesti mendunia. Yesus datang di dunia, misiNya di dalam dunia. Banyak orang pisahkan itu. Memang, kita tidak boleh berjiwa duniawi, tetapi bervisi dunia. Uskup nasionalis&#8230;. itu memang bukan barang baru kok. Dulu saya di OEolo, di hutan sana, kalau sekiranya pemerintah, atau DPR (D) janji datang mau kunjungi satu kampung, masyarakat siap diri, tumbuk padi, ikat sapi. Tunggu-tunggu tidak datang.  Pemerintah robah jadwal turut suka saja. Saya kalau sudah lihat begitu, saya pergi ke masyarakat. Kepada mereka saya bilang, kamu pulang, kalau mereka datang saya yang bertanggung jawab. Itu karena saya kasihan warga itu, mereka tinggalkan pekerjaan, datang tunggu bodoh-bodoh di situ. Saya bilang, jangan pusing dengan mereka itu. Nanti saya yang tanggung jawab. Suatu kali saya di OEolo, seorang camat di Eban siksa orang-orang lari jongkok, lari katak. Saya tanya, kenapa? Mereka bilang, karena mereka lapor dia (camat) ke saya, sehingga dia siksa mereka. Ah, memang dia buat sembarang, buat salah, tebang hutan di sana kok. Tebang hutan, ya saya tidak setuju dong. Saya tanya camat itu, kenapa kamu siksa mereka? Kamu tebang hutan, jelas mereka tidak setuju. Saya minta mereka bubar. Dia bilang, kalau pastor bilang bubar, ya kami bubar.</p>
<p><strong><em>Jadi bukan hal baru bersuara membela kepentingan orang banyak&#8230;?</em></strong></p>
<p>Ya, bukan  hal baru buat saya. Dari dulu saya sudah seperti itu. Saya juga bukan pastor yang hanya urus sakramen saja. Saya juga kerja kebun, membentuk oganisasi Santa Maria untuk ibu-ibu, Santo Yosep untuk bapak-bapak, Santo Aloysius untuk pemuda-pemuda, Santa Agnes untuk pemudi-pemudi. Saya tidak hanya urus yang rohani,  kebun juga saya urus. Tuhan Yesus datang itu bukan menyelamatkan  jiwa, tetapi menyelamatkan manusia. Orang sakit disembuhkan,  orang lapar diberi makan.</p>
<p><strong><em>Realitas sosial kemasyarakatan di daerah ini penuh dengan ketimpangan. Salah satu yang sangat fenomenal adalah korupsi. Sebetulnya peran pemimpin sangat penting. Bagaimana Bapak Uskup melihat figur pemimpin di daerah ini sekarang ini?</em></strong></p>
<p>Sekarang saya masih mencari Yohanes Pemandi baru, atau Albertus Sugiyopranoto (uskup pertama orang Indonesia, <strong>Red).</strong> Jadi, kita cari satu figur yang berwibawa, yang bisa dipercayai. Saya tidak tahu figur-figur sekarang ini. Apakah ada  yang dapat dipercaya atau tidak.</p>
<p><strong><em>Bapak uskup pernah menjadi anggota Dewan di TTU, mengikuti semua pemilu di Indonesia. Bagaimana peluang pemilu kali ini, apakah bisa melahirkan pemimpin yang baik?</em></strong></p>
<p>Ya, ada yang tanya seperti itu. Menurut saya, pemilu sekarang ini hasilnya tidak berbeda dari yang dulu-dulu. Caranya berbeda, tapi isinya sama.  Pemain politiknya itu banyak dari stok lama. Baik kalau mereka itu cepat sadar diri bahwa mereka stok lama. Kalau tidak, mau langkah maju bagaimana? Atau, macam saya keberatan dengan Yonif 744 yang datang ke sini atau ke Kefa dulu ketika pengungsi Timtim masuk ke NTT. Datang panglima dari Denpasar, coba yakinkan saya. Dia bilang, kulitnya memang 744, tapi isinya sudah baru. Saya bilang, ya, kalau manusia itu isinya robah bukan sekaligus, tetapi pelan-pelan, butuh waktu lama. Saya tidak setuju, karena yonif itu &#8216;kesohor&#8217; sekali di Timor Timur. Kita juga ikuti perkembangan mereka di sana.</p>
<p><strong><em>Saat ini salah satu komponen masyarakat  yang cukup kritis dan dapat diandalkan adalah kaum rohaniwan. Bagaimana pendapat Bapak Uskup mengenai tampilnya rohaniwan di panggung luar biara?</em></strong></p>
<p>Di mana-mana, entah di dalam forum resmi atau di luar forum resmi, ada keadilan dan ketidakadilan. Jika kita menemukan ada ketidakadilan, maka kita harus bersuara. Dan itu bukan hanya tugas rohaniwan. Itu tugas semua kita. Orang tanya saya tentang dua caleg rohaniwan di Kefa <strong>(Catatan: Romo Amandus Nahak Pr dan Makarius Molo, Pr mendafarkan diri sebagai caleg di TTU)</strong>. Saya bilang, lalu kamu (kaum awam) buat apa? Kamu juga orang Katolik, jadi tugas kita semua untuk bersuara menentang ketidakadilan.</p>
<p><strong><em>Tetapi, kelihatan sekali bahwa tampilnya kaum rohaniwan melahirkan kontroversi di masyarakat.  Menurut Bapak Uskup, apakah sekarang ini rohaniwan itu perlu tampil, harus tampil atau tidak perlu tampil?</em></strong></p>
<p>Tentang kasus caleg di Kefa itu saya sudah keluarkan surat resmi dan semua sudah jelas. Jadi, begini. Bahwa dulu pernah ada klerus (rohaniwan) di lembaga legislatif, itu karena situasi waktu itu perlu. Tetapi sekarang, situasinya sudah berubah. Dan, menurut Konsili Vatikan II, tata dunia ini adalah tugasnya kaum awam. Dulu situasinya memungkinkan, dan uskup memberi izin. Juga sistem politiknya berbeda dulu dengan sekarang. Sekarang sistem politiknya sudah lain.  Sekarang awam sudah banyak yang berpolitik. Jadi, kita (kaum rohaniwan) <em>back to basic</em>, urus bagian kita. Orang tidak mengerti bahwa waktu itu, tahun 1960-an, situasinya lain. Saya juga menjadi anggota DPRD yang namanya DPRD Gotong Royong. Ada alim ulama Katolik, alim ulama Protestan, ada alim ulama Islam, yang mewakili umat seluruhnya. Saya menjadi anggota DPRD tahun 1962 sampai tahun 1966. Dan situasi waktu itu lain sekali. Waktu itu situasinya nasakom. DPR(D) harus terdiri dari utusan nasionalis, agama, sosialis dan komunis. Saya waktu itu didesak oleh Deken di Kefamenanu untuk masuk, supaya &#8216;kom&#8217; (komunisme) itu jangan masuk di TTU. Mungkin TTU merupakan satu-satunya daerah di Indonesia atau NTT yang unsur &#8216;kom&#8217;-nya tidak masuk, padahal DPR waktu itu adalah DPR liberal. Kami beberapa orang cukup vokal menentang unsur &#8216;kom&#8217; masuk TTU. Sekarang situasinya sudah berubah. Dan, menurut hukum kanon, harus ada izin dari uskup. Pertimbangan itu dari uskup, bukan dari Dewan atau dari manusia lain di luar itu. Jangan baca hukum kanon (hukum gereja, <strong>Red)</strong> itu sepotong-sepotong, terlepas-lepas. Karena konsekuensinya banyak sekali.</p>
<p><strong><em>Aturannya memang begitu, tetapi coba kita bicara post factum. Pasti bahwa kedua rohaniwan di Kefa itu sadar bahwa langkah mereka bertentangan dengan aturan&#8230;.</em></strong></p>
<p>Bukan sadar, tapi kelihatan bahwa mereka itu tahu bahwa ada aturannya. Tetapi mereka buat (mendaftarkan diri menjadi caleg), dan tidak memberitahu sama sekali. Saya sama sekali tidak tahu. Saya hanya tahu tanggal 28 Januari, sesudah ada pengumuman tentang daftar caleg.</p>
<p><strong><em>Lalu, apakah kedua romo itu tahu dan mau maju karena ada hasrat mau membela kepentingan masyarakat ketika orang awam tidak bisa diandalkan? Atau Bapak Uskup melihat motivasi lain?</em></strong></p>
<p>Ya, itu juga menjadi pertanyaan bagi saya sebenarnya. Ada apa di balik itu? Karena saya sangka mereka tahu bahwa sistem parlemen sekarang itu lain sekali. Suara itu disalurkan melalui fraksi. Apa artinya satu suara atau dua suara kalau sekiranya aspirasi yang kita bawa itu harus melalui fraksi? Jadi, bukan argumentasi kebenaran yang akan diperlihatkan (di Dewan). Kalau argumentasi kebenaran yang diperlihatkan, mungkin masih bisa dibenarkan. Karena butuh orang kuat, orang vokal yang berwibawa. Kalau seperti itu barangkali masih bisa. Tetapi sistem sekarang tidak bisa lagi, karena sistem fraksi.</p>
<p><strong><em>Berarti sikap resmi gereja sudah jelas&#8230;..</em></strong></p>
<p>Ya, sudah jelas seperti yang ditulis hukum kanon itu. Karena setiap lembaga mempunyai aturan masing-masing yang jelas mengatur. Contohnya seperti orang Katolik yang mau nikah. Menurut aturan, dia hanya memiliki satu istri, tidak boleh dua. Aturannya memang begitu. Kalau tidak mau ikut aturan itu, ya keluar saja.</p>
<p><strong><em>Bapak uskup juga sering didekati tokoh-tokoh politik, apalagi menjelang suksesi dan pemilu sekarang ini. Apa gerangan yang mereka harapkan?</em></strong></p>
<p>Haa&#8230;haaa&#8230; haaa. Saya tidak mau lagi. Saya sudah umumkan bahwa sekarang partai politik terlalu banyak, sehingga saya tidak mau terima lagi. Kamu kira mereka itu datang mau apa? Mereka datang, setelah itu keluar bilang, Bapak Uskup sudah restu saya, sudah setuju saya. Ha&#8230;haaaa&#8230; Mereka omong kosong itu. Seperti waktu suksesi Belu. Saya larang semua calon datang ke saya. Sebab kalau semua datang ke saya, dia keluar bilang uskup dukung dia.</p>
<p><strong><em>Apa pengalaman menarik ketika menjadi anggota Dewan di TTU dulu?</em></strong></p>
<p>Waktu itu, saya berjuang keras untuk rakyat. Ketika itu pemerintah mau jual rakyat ke Tim Liko. Tanah yang luas mulai dari Nurobo sampai pantai utara, seluas tiga ratus ribu hektar itu mereka mau jual tanpa tanya DPR (D). Pemerintah (TTU) dengan pemerintah (Australia) sudah jual beli tanah itu. Saya marah waktu itu dan lempar map. Saya bilang, saya tidak perlu ini map. Waktu itu dalam sidang.</p>
<p><strong><em>Cukup vokal ya?</em></strong></p>
<p>Ya, kita berjuang untuk kepentingan rakyat. Bayangkan,  tanah yang begitu luas itu mereka pagar dengan kawat, dan rakyat tidak bisa kerja sawah lagi.  Kita berkelahi, berkelahi, sehingga dataran sawah dikeluarkan. Lainnya tidak. Kita membela rakyat, karena dalam pagar itu rakyat punya kemiri, asam, tanaman ada di dalam. Mereka tidak bisa masuk lagi. Tetapi tidak berhasil, sehingga kami turun kampanye potong kawat. Kita lawan betul. Katanya mau bangun pabrik kaleng daging sapi untuk Australia. Orang kita sendiri tidak bisa beli daging. Makan ubi kayu saja hampir tidak bisa, mau beli daging sapi&#8230;. Atau ketika ada rencana bupati bangun lapangan terbang di Kefa. Di Dewan semua setuju, hanya saya sendiri tidak setuju. Saya mewakili umat TTU, sehingga punya pengaruh besar. Bangun lapangan terbang di Kefa? Jarak dari Kupang ke Kefa berapa kilo? Dari sisi komersial tidak ada untung apa-apa. Bupati bukan urus rakyat bisa kerja kebun, tapi urus bangun lapangan terbang. Yang naik pesawat paling-paling hanya bupati satu kali, tentara satu kali. Saya tidak setuju. Saya kemudian angkat mobil dan tinggalkan Dewan. Setelah itu saya ke luar negeri. Pulang dari luar negeri, saya masuk lagi, karena katanya masa jabatan belum selesai. Haa&#8230;haaa&#8230;haaa.</p>
<p><strong><em>Apakah Bapak Uskup merasakan ada sesuatu yang hilang sekarang ketika kaum rohaniwan tidak lagi terlibat dalam politik praktis?</em></strong></p>
<p>Menurut saya, kalau sekarang kita (rohaniwan) masuk, kita makin dibungkam.  Karena sekarang di dalam (Dewan) itu kualinya masih kotor, sehingga kalau kita masuk, kita kena kotor juga. Lebih baik kita tinggal bersih dan berdiri  di luar baru omong daripada masuk di dalam kuali yang kotor. Lebih baik kita omong dari luar, karena lebih didengar daripada masuk di dalam. Kecuali kalau kualinya sudah bersih.</p>
<p><strong><em>Lalu, bagaimana pandangan Bapak Uskup tentang politik?</em></strong></p>
<p>Baik, politik itu baik. Saya selalu beri ceramah bahwa politik itu kudus, karena selalu bergantung pada dasar, tujuan dan visinya memperjuangkan kepentingan rakyat. Hanya pelakunya sehari-hari yang tidak baik. Maka saya selalu bilang, kalau hari-hari kita bergaul dengan pencuri, lama-lama kita juga jadi pencuri. Andaikata negara ini dapat satu orang yang tangannya bersih, jujur, <em>integrated</em>&#8230;. Saya tidak tahu, entah peluang dapatkan orang seperti itu ada atau tidak. Tetapi andaikata ada orang seperti itu, tentu ia akan dapat banyak angin sakal.</p>
<p><strong><em>S</em></strong><strong><em>istem politik sekarang dan aturan gereja tidak memungkinkan rohaniwan masuk dan terjun langsung dalam politik. Lantas, manakah saluran yang paling pas buat rohaniwan itu mengekspresikan perjuangan mereka?</em></strong></p>
<p>Banyak sekali saluran. Banyak sekali. Tinggal pilih dan pakai saja. Dan,  yang paling penting manusia itu sendiri mesti berwibawa, sehingga ketika dia omong, orang lain dapat mendengar. Integritas moral itu sangat penting. Juga dia jangan punya kepentingan lain, selain coba membela kebenaran. Kalau dia sudah punya kepentingan, maka dia akan miring sana, miring sini.</p>
<p><strong><em>Daerah ini mayoritas kristen. Sejauh mana Bapak Uskup melihat nilai-nilai kristen mempengaruhi para pejabat di daerah ini yang nota bene kebanyakan kristen itu?</em></strong></p>
<p>Dalam banyak kesempatan, saya selalu bilang tiap orang kristen itu mesti memegang prinsip kristen, prinsip Katolik.  Saya bukan baru omong sekarang. Sejak Herman Musakabe (ketika menjadi gubernur), kami para tokoh agama berkumpul di Kupang. Kita uskup sudah tua-tua ini disuruh kumpul di Kupang. Waktu itu, saya diminta (alm) Uskup Monteiro, SVD (Uskup Agung Kupang, <strong>Red</strong>) jadi moderator. Kita diminta mesti pegang prinsip, pegang prinsip. Saya moderator. Saya sudah marah dan saya bilang, sekarang saya tidak mau jadi moderator lagi. Sekarang saya mau omong sebagai peserta. Saya bilang, pegang prinsip, prinsip apa? Hanya omong saja. Dalam kenyataan, setiap kali pemilu, prinsip kristen, prinsip Katolik diinjak-injak, sehingga sebagai uskup, saya paling kecewa setiap kali pemilu. Saya rasa macam tukang kebun yang selalu tidak berhasil.  (*)</p>
<p><strong>Topinya itu&#8230;..</strong></p>
<p><strong>JALANNYA</strong> sudah agak membungkuk. Garis-garis ketuaan telah menghiasi wajahnya. Tanda bahwa fisik telah kalah dari umur. Tetapi suara baritonnya yang tegas dan &#8216;mengelegar&#8217; menyebabkan semangat Uskup Anton, tak lekang oleh usia. Kesan formal dan resmi jauh dari penampilannya.</p>
<p>Tahun ini, tepatnya 2 Januari lalu, Uskup Anton genap 75 tahun. Dan, sesuai dengan aturan gereja, Uskup Anton mesti mengundurkan diri. Beliau bahkan telah mengundurkan diri sejak 22 April tahun lalu. &#8220;Saya sudah minta mundur. Saya sudah tulis surat mengundurkan diri tahun lalu. Hanya orang yang mau ganti saya itu yang belum siap,&#8221; katanya sekenanya. Sudah ada nama yang siap menggantikan? &#8220;Itu rahasia,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Beliau menuturkan, beberapa waktu lalu, ketika bertemu dengan kardinal di Vatikan yang mengurus pergantian para uskup itu, beliau meminta agar proses pergantian itu jangan terlalu lama. Tetapi apa jawaban kardinal itu? &#8220;Dia bilang, <em>depend on the God will</em>. Bersama beberapa uskup lain, kami jawab, <em>No&#8230; no&#8230; depend on you,</em>&#8221; kata Uskup Anton sambil tertawa lepas.</p>
<p>Ada satu hal yang paling kentara mencirikan Uskup Anton Pain Ratu, SVD, yaitu topi uskupnya yang mengambil bentuk peci. Beda dengan topi uskup lain yang berbentuk setengah bulat. &#8220;Waktu saya ketemu paus, dia bilang, ah bagus itu topimu. Dan, saya memang senang pakai itu. Karena ini model kita di sini, yang bulat itu kan model dari luar,&#8221; jelas Uskup Anton.</p>
<p>Sulung dari tujuh bersaudara, buah hati pasangan Kosmas Kopong Liat dan Maria Boli Beraya ini lahir di Lamawolo, sebuah desa di kaki Gunung Boleng Adonara, Flores Timur, 2 Januari 1929. Ayahnya seorang pemuka masyarakat di desa, dan kemudian menjadi kepala desa. Sejak kecil, solidaritas dengan orang kecil telah ditunjukkan kedua orangtuanya. Nilai-nilai Katolik tidak hanya diajarkan, tetapi ditunjukkan dalam hidup saban hari. &#8220;Orangtua saya memang buta huruf, tetapi mereka tidak buta iman,&#8221; kata Uskup Anton. <strong>(len)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Catatan penulis : Hasil wawancara ini  sudah diterbitkan di rubrik  ‘Tamu Kita’ Harian Pos Kupang tahun 2004. Maaf saya lupa tanggal terbitnya.  Dengan seizin Pemred Pos Kupang,  Dion DB Putra, saya tayang lagi  naskah ini untuk mengenang  (Alm) Mgr. Anton Pain Ratu, SVD  </em></strong></p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/tokoh-kita/mgr-anton-pain-ratu-svd-kualinya-masih-kotor/">Mgr. Anton Pain Ratu, SVD: &#8220;Kualinya Masih Kotor&#8221;</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mgr. Anton  Pain Ratu, SVD : Miskin Sampai Mati</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/mgr-anton-pain-ratu-svd-miskin-sampai-mati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jan 2024 00:54:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Mgr. Anton Pain Ratu SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Anton Pain Ratu SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Atambua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=23312</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Robert Bala Hal apa yang paling menarik dari Uskup Anton Pain Ratu, SVD yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/mgr-anton-pain-ratu-svd-miskin-sampai-mati/">Mgr. Anton  Pain Ratu, SVD : Miskin Sampai Mati</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Robert Bala</strong></p>
<p>Hal apa yang paling menarik dari Uskup Anton Pain Ratu, SVD yang lahir 2 Januari 1929 dan wafat 6 Januari 2024? Bagi saya, sebuah pertemuan bisa menjawab hal ini. Tetapi sebuah pertemuan kecil pada Natal 1988 sudah memberikan jawaban: kemiskinannya.</p>
<p>Saat itu, sahabat saya seasal dari Tanah Boleng, 𝑷. 𝑴𝒂𝒕𝒊𝒂𝒔 𝑫𝒂𝒕𝒐𝒏 𝑫𝒐𝒏𝒊, 𝑺𝑽𝑫 (𝒌𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒊𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒓𝒊𝒔 𝒅𝒊 𝑪𝒉𝒊𝒍𝒆), yang saat itu masih menjadi novis SVD Nenuk, mengajak saya bersalaman dengan Uskup Atambua. Karena dianggap keluarga, Uskup yang baru 3 tahun sebagai Uskup (1984, sebelumnya uskup tituler dari 1982) mengajak kami ke kamarnya. Sebuah kamar yang serba sederhana. Tidak banyak barang yang dimiliki dalam kamar.</p>
<p>Karena diajak duduk lebih lama, saya melihat keluar dari kamar. Ada emperan kecil dan di emperan itu ada barbel. 𝑩𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑮𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑩𝒂𝒓𝒃𝒆𝒍 𝑫𝒖𝒎𝒃𝒃𝒆𝒍𝒍 𝒃𝒖𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒃𝒓𝒊𝒌 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒃𝒂𝒓𝒃𝒆𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒆𝒏. 𝑼𝒔𝒌𝒖𝒑 𝑨𝒏𝒕𝒐𝒏 𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒐𝒍𝒂𝒉𝒓𝒂𝒈𝒂 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕-𝒎𝒆𝒏𝒖𝒓𝒖𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒓𝒃𝒆𝒍 𝒊𝒕𝒖. Murah tetapi dibuat secara konsisten. Hal itu tentu bukan sekadar basa-basi. Konsistensi pada olahraga itulah yang barangkali turut berpengaruh mengantarnya hingga berusia 95 tahun, yang dirayakan 3 hari sebelum ia wafat.</p>
<p>𝐊𝐨𝐧𝐭𝐫𝐚𝐝𝐢𝐤𝐬𝐢 – 𝐈𝐫𝐨𝐧𝐢</p>
<p>Menyaksikan kemiskinan saat ia baru saja ‘menempati takhta uskup’ menjadi kesan kuat untuk sejak saat itu berpikir bahwa Pain Ratu memang berbeda. Dengan pengalamannya yang sangat luas dengan kontaknya yang mendunia, maka model kemiskinan seperti itu kontradiktif lagi ironis.</p>
<p>Sudah di tahun 1966, 𝑷𝒂𝒊𝒏 𝑹𝒂𝒕𝒖 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒏𝒈𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒂𝒏𝒂 𝒅𝒊 𝑱𝒆𝒓𝒎𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒖𝒓𝒔𝒖𝒔 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒉𝒂𝒎𝒑𝒊𝒓 𝒔𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏. 𝑰𝒂 𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒌𝒆 𝑳𝒊𝒗𝒆𝒓𝒑𝒐𝒐𝒍 𝑰𝒏𝒈𝒈𝒓𝒊𝒔 (1967) untuk memahirkan bahasa Inggrisnya sebagai persiapan belajar di 𝑬𝑨𝑷𝑰 (𝑬𝒂𝒔𝒕 𝑨𝒔𝒊𝒂𝒏 𝑷𝒂𝒔𝒕𝒐𝒓𝒂𝒍 𝑰𝒏𝒔𝒕𝒊𝒕𝒖𝒕𝒆) 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑼𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑨𝒕𝒆𝒏𝒆𝒐 𝒅𝒆 𝑴𝒂𝒏𝒊𝒍𝒂 (1968-1970) hingga mendapatkan gelar BA dan MA bidang Pendidikan Religius.</p>
<p>Dari segi jabatan pemerintahan, Pain Ratu bukan orang sembarangan. 1962-1966 𝒊𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒏𝒈𝒈𝒐𝒕𝒂 𝑫𝑷𝑹 𝑮𝑹 𝑲𝒂𝒃𝒖𝒑𝒂𝒕𝒆𝒏 𝑻𝑻𝑼. 𝑱𝒂𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒊 𝒅𝒊𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒅𝒊 𝑭𝒊𝒍𝒊𝒑𝒊𝒏𝒂 (1970-1972).</p>
<p>Ternyata jabatan pemerintahan itu hanyalah awal. Ia kemudian diangkat menjadi 𝑹𝒆𝒈𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝑺𝑽𝑫 𝑻𝒊𝒎𝒐𝒓 (1972-1979). 𝑺𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 3 𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒖𝒓𝒖𝒕-𝒕𝒖𝒓𝒖𝒕 𝒅𝒊 𝑺𝑽𝑫 𝒉𝒂𝒍 𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒊𝒂𝒔𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 2 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒋𝒂𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏.</p>
<p>Dari jabatan regional, Pain Ratu diangkat menjadi 𝑨𝒏𝒈𝒈𝒐𝒕𝒂 𝑫𝒆𝒘𝒂𝒏 𝑱𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍 𝑺𝑽𝑫 𝒅𝒊 𝑹𝒐𝒎𝒂 (1979-1982). 𝑫𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊, 𝑨𝒏𝒕𝒐𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒌𝒆 𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒅𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒗𝒊𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔𝒊 𝒌𝒆 𝒉𝒂𝒎𝒑𝒊𝒓 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕 𝒅𝒊 𝒎𝒂𝒏𝒂 𝑺𝑽𝑫 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂.  Bisa dipastikan kemampuan berbahasa harus sangat baik. Malah anggota dewan harus belajar bahasa lain dalam waktu singkat agar bisa lebih berkomunikasi saat kunjungan.</p>
<p>Aneka jabatan ini hanyalah awal yang mengantarnya menjadi 𝑼𝒔𝒌𝒖𝒑 𝑨𝒖𝒌𝒔𝒊𝒍𝒊𝒆𝒓 𝑨𝒕𝒂𝒎𝒃𝒖𝒂 (1982-1984) 𝒅𝒂𝒏 𝑼𝒔𝒌𝒖𝒑 𝑨𝒕𝒂𝒎𝒃𝒖𝒂 (1984-2007).</p>
<p>Dengan demikian 𝐬𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐨𝐧𝐚𝐥, 𝐏𝐚𝐢𝐧 𝐑𝐚𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧. 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐠𝐢 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧, 𝐣𝐚𝐛𝐚𝐭𝐚𝐧 (𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐠𝐞𝐫𝐞𝐣𝐚𝐰𝐢 𝐦𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢). 𝐉𝐚𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐥𝐮𝐚𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐟𝐚𝐬𝐢𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬. 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐫𝐛𝐞𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐞𝐧. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐝𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐨𝐝𝐞𝐥 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐨𝐧𝐭𝐫𝐚𝐝𝐢𝐤𝐭𝐢𝐟 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐢𝐫𝐨𝐧𝐢𝐬 𝐝e𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐛𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧.</p>
<p><strong>Maranatha </strong></p>
<p>Kemiskinan yang sebenarnya dari Pain Ratu tentu bisa diukur dengan keputusannya untuk tinggal di wilayah keuskupannya hingga wafat. Sejak 2007, ia memilih Bintauni sebagai ‘markasnya’. Markas yang ditempatinya hampir 16 tahun). Keputusan untuk tinggal di tempat ia berkarya memang bukan keputusan yang mudah dibuat oleh para uskup yang sudah pensiun (emeritus).</p>
<p>Banyak uskup yang memilih untuk memilih berada di luar keuskupannya. Uskup Donatus Djagom, SVD memilih kembali ke kampung halamannya di Ranggu, Manggarai (1996 – 2010). Hanya setahun terakhir oleh kondisi kesehatan, ia kembali ke Ende, dan tinggal bersama para Suster CIJ, lingkungan Istana Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Uskup Darius Nggawa, SVD, setelah pensiun, ia lalu tinggal di Biara SVD Wairklau Maumere (2004-2008). Banyak uskup yang mempersiapkan masa pensiunnya bukan di tempat ia berkarya tetapi kembali ke tanah kelahiran dan tentunya butuh persiapan untuk bisa kembali ke kampung halaman.</p>
<p>Artinya setelah pensiun dari jabatan, seorang Uskup bisa memilih tinggal di mana saja. Tetapi bisa dikatakan tidak banyak yang memilih tetap berada di Keuskupan di mana ia berkarya. Ada juga yang merasa, setelah kekuasaan yang begitu lama, seorang Uskup (yang juga manusia) kadang tak bersahabat baik dengan para imamnya. Karena itu kembali ke kampung sendiri adalah pilihan terbaik.</p>
<p>Pain Ratu menjadi salah satu Uskup yang memilih terus ada hingga wafat di mana ia berkarya dari awal. Ia tahu bahwa di tempat itu ia tidak hanya bekerja sebagai pendatang tetapi telah menjadi orang TTU di Keuskupan Atambua, tempat di mana ia menjadi sangat fasih dalam bahasa Dawan.</p>
<p>Ini adalah ekspresi penyerahan diri dan ekspresi terdalam bahwa Pain Ratu adalah anak tanah. Sebagai anak tanah, ia memang harus kembali memeluk tanah di mana ia bekerja dan tidak sedikit pun ia beralih dari sana. Justru di sinilah kekayaan dirinya yang tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan duniawi.</p>
<p>Di sinilah ekspresi rasa cintanya pada budaya Dawan yang tidak hanya terucap dari kata-kata tetapi bisa saja ia telah bersumpah. Ia bersumpah, bila ia kembali sebagai orang kaya karena kekayaan duniawi maka itu terkutuk. Tetapi Ia justru telah merendahkan dirinya untuk mengabdi sampai tuntas dan karena itu bisa terbayang bahwa saat menghembuskan napasnya 6 Januari 2024 pkl 10.30, yang terakhir ia hanya berseru: Maranatha : Tuhan datanglah, ke tempat di mana ia telah mempersembahkan kemiskinannya untuk sebuah pengabdian total.</p>
<p>Karenanya tidak ada kata yang lebih pantas selain rasa kagum karena ia telah menjadi miskin sampai mati tetapi oleh kematiannya mendatangkan makna tidak saja bagi Keuskupan Atambua tetapi juga bagi gereja sejagat. Harta ini tentu tidak hanya dijaga oleh para Suster Tarekat Putri Maranatha (TPM) yang didirikannya 2005 tetapi harta terindah untuk Gereja sejagat.</p>
<p><strong><em>*  Robert Bala, pengagum Mgr. Anton Pain Ratu, SVD </em></strong></p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/mgr-anton-pain-ratu-svd-miskin-sampai-mati/">Mgr. Anton  Pain Ratu, SVD : Miskin Sampai Mati</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
