<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uskup Budi Kleden &#8211; Kabar NTT</title>
	<atom:link href="https://kabarntt.id/tag/uskup-budi-kleden/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<description>Kompeten, Kritis, Kredibel</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Aug 2025 12:45:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://kabarntt.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-icon-situs-e1738830134956-32x32.png</url>
	<title>Uskup Budi Kleden &#8211; Kabar NTT</title>
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hati untuk Gereja Lokal dan “Ayo Bangun NTT!”</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/hati-untuk-gereja-lokal-dan-ayo-bangun-ntt/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2025 12:45:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Melki Laka Lena]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Agung Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Budi Kleden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28049</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Agustinus Tetiro Dari obrolan podcast dengan host Master Oyen Feto pada akun Youtube Komsos&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hati-untuk-gereja-lokal-dan-ayo-bangun-ntt/">Hati untuk Gereja Lokal dan “Ayo Bangun NTT!”</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Agustinus Tetiro </strong></p>
<p>Dari obrolan <em>podcast</em> dengan <em>host</em> Master Oyen Feto pada akun <em>Youtube</em> Komsos KAE, kita <em>audiences</em> bisa menangkap sejumlah harapan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden SVD untuk gereja lokal pada peringatan setahun tahbisan uskupnya.</p>
<p>Pertama, Gereja yang bertumbuh dalam iman inkarnatif, yang menandai kasih persaudaraan lintas batas, antar-manusia, antar-generasi dan relasi dengan alam dan lingkungan hidup. Iman inkarnatif berarti iman yang masuk ke dalam jiwa-raga kita.</p>
<p>Kedua, pertumbuhan ekonomi beretika dengan bebas dari jebakan pinjaman <em>online</em> dan kejaran petugas koperasi harian. Ekonomi beretika yang dimaksud tentu saja berarti kita mengusahakan suatu proses produksi, distribusi, dan konsumsi untuk kelangsungan hidup kita tanpa merugikan dan mengancam hak hidup orang lain.</p>
<p>Ketiga, pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Umat di Keuskupan Agung Ende (KAE) perlu memastikan pendidikan yang baik untuk anak-anak dan orang muda. Termasuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil untuk menghindari <em>human trafficking</em> berkedok pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.</p>
<p>Keempat, kolaborasi dengan semua yang berkehendak baik. Kolaborasi bisa berbentuk pembukaan lapangan kerja di daerah, agar umat bisa melihat peluang di daerah sendiri. Toh, jika memang susah dan memilih untuk merantau, semuanya dilakukan dengan prosedur yang benar.</p>
<p>Kelima, lingkungan hidup. Keprihatinan pada isu-isu lingkungan hidup perlu terus digaungkan untuk memastikan bahwa bumi yang hanya satu ini menjadi rumah dan tempat tinggal yang nyaman bagi kita dan bagi anak-cucu kita di masa mendatang.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hati-untuk-gereja-lokal-dan-ayo-bangun-ntt/">Hati untuk Gereja Lokal dan “Ayo Bangun NTT!”</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Uskup Budi dan  “Rumah” Uskup</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/uskup-budi-dan-rumah-uskup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Aug 2024 04:52:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Mgr. Paulus Budi Kleden]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Agung Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Budi Kleden]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=24588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Pater Charles Beraf, SVD Mengapa Budi? Mengapa bukan Charles yang uskup? Mengapa bukan Yohan?&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/uskup-budi-dan-rumah-uskup/">Uskup Budi dan  “Rumah” Uskup</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Pater Charles Beraf, SVD<br />
</strong></p>
<p>Mengapa Budi? Mengapa bukan Charles yang uskup? Mengapa bukan Yohan? Mengapa bukan Sius? Mengapa bukan Joni? Bagaimana dan mengapa Budi bisa menjadi uskup?</p>
<p>Pertanyaan – pertanyaan ini tampaknya ‘basi’, sumbang dan kurang relevan di tengah riuh penyambutan Mgr. Paulus Budi Kleden sebagai uskup Keuskupan Agung Ende.  Keriuhan pada Sabtu, 10 Agustus 2024 dari Bandar Udara Haji Aroeboesman hingga ke rumah besar (istana uskup) di Ndona seolah mengabaikan ‘lelahnya’ sang gembala dari Roma ke Ende. Bahkan sebaliknya, lambaian tangan dan berkat Uskup Budi dari mobil sunroof seakan mengobati segalanya: kerinduan plus kelelahan, dan karena itu, sudah tak pantas lagi untuk bertanya: mengapa Budi, dan bukan Charles?</p>
<p>Namun setiap pertanyaan, sesederhana apapun, selalu berjejak. Sebagai jejak, pertanyaan itu selalu berciri ‘menunjuk’ atau lebih tepat selalu berciri ‘mengabarkan’ sesuatu, yang mungkin tak banyak orang tahu atau peduli. Bukankah, seperti kata filosof Aristoteles, bertanya dan terus bertanya adalah suatu sikap filosofis paling mendasar untuk bisa menemukan yang sebenarnya? Bukankah, seperti pada tikus mondok, hal mengendus jejak demi jejak adalah cara terbaik untuk untuk menemukan yang terbaik, yang pokok, bukan yang remeh temeh?</p>
<p>Itulah sebabnya ‘mengapa Budi’ tetap menjadi pertanyaan penting untuk dijawab.</p>
<p>Di kalangan keluarga bermarga Kleden &#8211; Waibalun, Uskup Budi adalah uskup kedua setelah mendiang Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden (Uskup Denpasar) – kakak kandung dari ayah Uskup Budi (Petrus Sina Kleden), yang sekandung juga dengan Wilhelmus Lawe Kleden (ayah dari mantan frater SVD Tony Kleden, seorang wartawan di Kupang) dan Maria Lepan Kleden. Jadi, boleh dikata dari serumah lahir dua (2) uskup: Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden dan Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden. Duo Paulus (duo Kleden) dari satu rumah, terpilih menjadi uskup.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/uskup-budi-dan-rumah-uskup/">Uskup Budi dan  “Rumah” Uskup</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
