<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ansel Dore Woho Atasoge &#8211; Kabar NTT</title>
	<atom:link href="https://kabarntt.id/tag/ansel-dore-woho-atasoge/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<description>Kompeten, Kritis, Kredibel</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Apr 2026 06:42:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://kabarntt.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-icon-situs-e1738830134956-32x32.png</url>
	<title>Ansel Dore Woho Atasoge &#8211; Kabar NTT</title>
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hak untuk Memiliki Hak (Merenungi Hari Kartini)</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/hak-untuk-memiliki-hak-merenungi-hari-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 06:42:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=29312</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April memiliki makna mendalam.&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hak-untuk-memiliki-hak-merenungi-hari-kartini/">Hak untuk Memiliki Hak (Merenungi Hari Kartini)</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</p>
<p>Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April memiliki makna mendalam. Inti utama peringatan Hari Kartini adalah memperingati dan menghormati perjuangan R.A. Kartini dalam mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan segala lini kehidupan. Perayaan ini mengingatkan masyarakat Indonesia untuk terus konsisten memperjuangkan keadilan dalam kesetaraan gender.</p>
<p>Gagasan-gagasan dan perjuangannya dapat kita baca dalam surat-suratnya. Seorang sahabatnya yang berasal dari Belanda, J.H. Abendanon, mengumpulkan surat-surat itu dan dibukukan. Buku itu diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul ‘Door Duisternis tot Lich’ (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa (Inggris, Prancis, Jerman). Bagi pembaca Eropa pada masa itu, surat-surat Kartini adalah kesaksian langka dan menyentuh tentang kehidupan perempuan pribumi di bawah kolonialisme. Mereka melihat Kartini sebagai &#8220;subjek jajahan&#8221;, tetapi sebagai pemikir humanis yang cerdas, kritis, dan universal.</p>
<p>Sementara itu, para aktivis hak perempuan di Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke-20 sering mengutip Kartini sebagai contoh perjuangan perempuan di negara non-Barat. Mereka melihat paralel antara perjuangan Kartini dengan gerakan ‘suffragette’ (hak pilih perempuan) di Barat, meskipun konteks budayanya berbeda.</p>
<p>Tak ketinggalan pula sejumlah tokoh feminis dan penulis internasional yang menulis atau menyebutkan Kartini dalam karya mereka sebagai simbol perlawanan halus dan intelektual. Ada dua point penting dari tulisan dan sebutan itu. Pertama, Kartini sebagai simbol &#8220;Feminisme Timur&#8221;. Dalam literatur studi gender pasca-kolonial, Kartini sering ditulis sebagai figur kunci yang menunjukkan bahwa feminisme bukanlah impor Barat semata, tetapi memiliki akar lokal yang kuat. Penulis-penulis akademis dari universitas di Belanda, Australia, dan Amerika Serikat sering menganalisis surat-surat Kartini untuk memahami dinamika gender di Asia Tenggara.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hak-untuk-memiliki-hak-merenungi-hari-kartini/">Hak untuk Memiliki Hak (Merenungi Hari Kartini)</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2025 23:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28923</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge Pada penghujung tahun, fenomena kilas balik atau kaleidoskop di satu sisi&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/">Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge</p>
<p>Pada penghujung tahun, fenomena kilas balik atau kaleidoskop di satu sisi dipandang sebagai ‘ritual naratif’ atau pengumpulan memori kolektif. Secara epistemologis, kilas balik berfungsi sebagai upaya subjek untuk memetakan diri dalam alur waktu, menarik kausalitas dari berbagai peristiwa guna menyusun proyeksi masa depan. Tulisan ini berupaya membingkai rangkaian proses politik Indonesia melalui tiga lensa ‘psikologi kognitif’ yakni kontaminasi kognitif, kompromi kognitif, dan disonansi kognitif, sebagai catatan kritis ambang tahun 2025.</p>
<p>Frasa ‘kontaminasi kognitif’ merujuk pada proses transmisi ide, bias, dan persepsi antarindividu melalui interaksi sosial, baik secara langsung maupun termediasi teknologi. Dalam panggung politik nasional, kontaminasi ini mewujud dalam narasi yang disebarkan oleh tokoh publik kepada konstituennya. Seringkali, pengaruh yang disebarkan bersifat toksik, penuh sinisme terhadap kebijakan publik yang objektif. Hal ini menciptakan polarisasi di mana kebenaran umum dianggap sebagai ancaman kelompok. Misalnya, fenomena ‘echo chambers’ di media sosial selama periode politik 2024-2025 menunjukkan bagaimana algoritma memperparah kontaminasi kognitif; penggunaan istilah-istilah peyoratif dalam debat publik sering kali mengaburkan substansi kebijakan, sehingga masyarakat lebih terjebak pada sentimen daripada argumen teknokratis.</p>
<p>Proses kontaminasi tersebut secara perlahan bermuara pada ‘kompromi kognitif’, sebuah titik simpul di mana individu menyesuaikan nilai-nilai idealnya dengan realitas politik yang pragmatis. Fenomena tebaran pesona yang bermuatan politis sering kali menguji integritas tokoh bangsa. Indonesia membutuhkan pemimpin dengan integritas yang membaja, bukan figur ‘berjiwa kardus’, istilah yang pernah dipopulerkan oleh aktivis Andi Arief untuk menggambarkan kerapuhan moral di hadapan kepentingan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kasus-kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat sering kali berakar dari kompromi kognitif terhadap tingginya biaya politik (mahar politik), yang pada akhirnya mengalahkan ideologi murni tentang keindonesiaan yang sejati.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/">Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membebaskan Pikiran</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/membebaskan-pikiran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2025 01:12:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Frans Magnis Suseno]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28382</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Anselmus Dore Woho Atasoge Belakangan ini, penyitaan buku kembali jadi sorotan publik. Buku-buku&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/membebaskan-pikiran/">Membebaskan Pikiran</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Anselmus Dore Woho Atasoge</p>
<p>Belakangan ini, penyitaan buku kembali jadi sorotan publik. Buku-buku yang membahas sejarah, ideologi, atau kritik sosial dianggap “berbahaya” dan ditarik dari peredaran. Dari sudut pandang filsafat, tindakan ini berkelindan erat dengan soal martabat manusia dan kebebasan berpikir.</p>
<p>Filsuf Immanuel Kant menegaskan bahwa martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir secara bebas. Kebebasan berpikir menjadi fondasi utama bagi masyarakat yang beradab dan demokratis. Ketika negara menyita buku, terlebih yang memuat gagasan atau kritik, tindakan tersebut berdampak pada pembatasan akses terhadap informasi. Namun yang paling utama adalah ia merampas hak dasar manusia untuk menggunakan akal budinya secara merdeka.</p>
<p>Monopoli atas kebenaran melalui pelarangan bacaan oleh pihak manapun justru mengabaikan prinsip dialog dan refleksi kritis yang menjadi syarat tumbuhnya masyarakat intelektual. Dialog rasional kehilangan momentumnya. Dalam konteks ini, penyitaan buku adalah bentuk pembungkaman yang halus, namun berdampak dalam terhadap iklim kebebasan dan martabat manusia.</p>
<p>Filsuf Jürgen Habermas menyebut ruang publik sebagai arena dialog rasional, tempat di mana gagasan diuji dan dipertukarkan secara terbuka. Buku, sebagai hasil pemikiran manusia, merupakan bagian penting dari ruang tersebut. Ketika buku disita, maka kesempatan untuk berdialog dan merefleksikan berbagai pandangan yang berbeda kehilangan ruangnya.</p>
<p>Adalah tidak berlebihan jika dikatakan tindakan penyitaan buku mematikan percakapan dan menutup pintu bagi refleksi kritis yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat demokratis. Masyarakat yang sehat tumbuh dari keberagaman ide yang dikelola secara bijak demi kebaikan bersama. Menutup ruang dialog berarti menghambat perkembangan intelektual dan melemahkan fondasi kebebasan berpikir yang menjadi hak setiap warga negara.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/membebaskan-pikiran/">Membebaskan Pikiran</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2025 02:44:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Komunikasi Sedunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=27487</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Secangkir nescafe di Hari Komunikasi Sedunia perspektif dialog antaragama) Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge Dalam&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/">Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>(Secangkir nescafe di Hari Komunikasi Sedunia perspektif dialog antaragama)</p>
<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</p>
<p>Dalam dunia yang semakin terhubung, komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi juga jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam. Hari Komunikasi Sedunia, yang dirayakan oleh Gereja Katolik setiap tahun, dapat dijadikan sebagai momen refleksi tentang bagaimana komunikasi dapat menjadi alat pemersatu, terutama dalam dialog antar agama. Dalam terang ajaran Gereja, komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membangun relasi yang berlandaskan kasih persaudaraan dan penghormatan satu terhadap yang lain yang berbeda.</p>
<p>Paus Fransiskus, dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-59 yang dirayakan pada Minggu, 1 Juni 2025 dengan tema &#8220;Bagikanlah dengan Lemah Lembut Harapan yang Ada di Hatimu&#8221; (1 Ptr 3:15-16), menekankan bahwa komunikasi yang sejati haruslah membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia mengajak umat Katolik untuk menjadi &#8220;Komunikator Pengharapan&#8221;, yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun jembatan persaudaraan. Dalam konteks dialog antar agama, komunikasi yang penuh harapan ini menjadi kunci dalam meruntuhkan prasangka dan membangun kepercayaan.</p>
<p>Pesan ini disiapkan oleh Paus Fransiskus sebelum wafatnya pada 21 April 2025, dan menjadi warisan terakhirnya bagi umat Katolik, terutama mereka yang bergerak di bidang komunikasi sosial. Dengan pesannya ini, Paus mengajak umat untuk menjadi &#8220;Komunikator Harapan&#8221;. Bahwasanya, komunikasi yang sejati harus membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang tidak memberikan harapan dapat menyebabkan ketakutan, keputusasaan, prasangka, dan kebencian-kebencian yang dapat berkelindan kapan dan di mana saja.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/">Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
