Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama

IMG 20250601 WA0011

(Secangkir nescafe di Hari Komunikasi Sedunia perspektif dialog antaragama)

Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam dunia yang semakin terhubung, komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi juga jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam. Hari Komunikasi Sedunia, yang dirayakan oleh Gereja Katolik setiap tahun, dapat dijadikan sebagai momen refleksi tentang bagaimana komunikasi dapat menjadi alat pemersatu, terutama dalam dialog antar agama. Dalam terang ajaran Gereja, komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membangun relasi yang berlandaskan kasih persaudaraan dan penghormatan satu terhadap yang lain yang berbeda.

Paus Fransiskus, dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-59 yang dirayakan pada Minggu, 1 Juni 2025 dengan tema “Bagikanlah dengan Lemah Lembut Harapan yang Ada di Hatimu” (1 Ptr 3:15-16), menekankan bahwa komunikasi yang sejati haruslah membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia mengajak umat Katolik untuk menjadi “Komunikator Pengharapan”, yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun jembatan persaudaraan. Dalam konteks dialog antar agama, komunikasi yang penuh harapan ini menjadi kunci dalam meruntuhkan prasangka dan membangun kepercayaan.

Pesan ini disiapkan oleh Paus Fransiskus sebelum wafatnya pada 21 April 2025, dan menjadi warisan terakhirnya bagi umat Katolik, terutama mereka yang bergerak di bidang komunikasi sosial. Dengan pesannya ini, Paus mengajak umat untuk menjadi “Komunikator Harapan”. Bahwasanya, komunikasi yang sejati harus membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang tidak memberikan harapan dapat menyebabkan ketakutan, keputusasaan, prasangka, dan kebencian-kebencian yang dapat berkelindan kapan dan di mana saja.

Pos terkait