Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge_
Di kabarntt.id, Kamis, 12 Maret 2026, ‘Om’ Tony Kleden menulis sebuah ‘kisah’ yang diberi judul ‘Mengenang Kornelis Kewa Ama: Wartawan Sebagai Advocatus Diaboli’. Sebuah kisah yang menarik hati saya untuk ‘bikin sisipan’ untuk tulisan ‘Om’ Tony.
Bagi saya, ketika Kornelis Kewa Ama, wartawan senior Kompas itu, dikenang sebagai ‘advocatus diaboli’, kita diajak merenungkan lebih dalam tentang esensi peran jurnalis dalam ruang publik. Istilah yang secara harfiah bermakna “pengacara iblis” ini merupakan sebuah postur epistemologis dan etis yang menempatkan wartawan sebagai ‘pengkritik sistematis’ terhadap klaim kebenaran yang dominan.
Dalam perspektif filsafat, sikap ini memiliki akar yang kokoh pada tradisi skeptisisme Socrates dan etika deontologis Immanuel Kant. Menurut Immanuel Kant, sebuah tindakan dinilai benar jika didasarkan pada prinsip kewajiban moral yang universal, bukan karena mengejar hasil yang menguntungkan. Dalam dunia jurnalistik, prinsip ini berarti wartawan wajib memegang teguh verifikasi, akurasi, dan kejujuran meski menghadapi tekanan dari penguasa atau kepentingan ekonomi. Kornelis Kewa Ama membuktikan komitmen ini melalui karya-karyanya. Ia melaporkan fakta apa adanya, bukan menyesuaikan dengan keinginan pihak yang berkuasa.
Sikap kritis dan tajam inilah yang disebut sebagai ‘advocatus diaboli’, sebuah metode dialektis yang sengaja mengajukan keberatan untuk menguji kekuatan argumen lawan.
Dalam tradisi filsafat, Socrates menggunakan metode ‘elenchus’ (pengujian melalui tanya-jawab) untuk membongkar asumsi-asumsi yang tidak teruji. Jurnalis yang menempuh jalan ini tidak puas dengan narasi permukaan. Ia menggali, mempertanyakan, dan memverifikasi hingga menemukan lapisan kebenaran yang lebih substantif.







