Senja Terakhir Seorang Wartawan, Obituari Tata Kornelis Kewa Ama

kowaama 4
Kornelis Kewa Ama

Rabu (11/03/2026) berjalan seperti hari-hari biasa di rumah mereka. Mesin cuci berdengung pelan. Pakaian yang sudah bersih dijemur satu per satu. Beberapa minggu terakhir, pekerjaan rumah memang lebih sering ia lakukan sendiri.

Istrinya, seorang dokter, masih dalam masa pemulihan setelah lama berjuang melawan kanker kandungan. Belum lama pula ia terjatuh di rumah hingga tangannya patah. Karena itu, lelaki yang pernah puluhan tahun bekerja sebagai wartawan di harian Kompas itu mengambil alih banyak urusan domestik. Bukan karena ia tak ingin menggunakan jasa pembantu rumah tangga, tetapi lebih karena ia ingin mengisi hari-hari pascapensiunnya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah. Hal-hal yang dulu jarang sempat ia lakukan ketika hidupnya masih dipenuhi dengan ritme kerja seorang wartawan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ia mencuci pakaian, membereskan rumah, dan memastikan semuanya berjalan seperti biasa. Dan, Rabu itu, ketika sore hari, ia sempat mengatakan kepada istrinya bahwa rasanya ingin makan ikan bakar. Kalimat sederhana yang mungkin terdengar seperti percakapan kecil dalam rumah tangga yang telah berjalan panjang.

Ia lalu mengambil kunci mobil dan keluar rumah untuk mencari ikan bakar. Tak ada yang menyangka, itu menjadi perjalanan terakhirnya. Sebab,  ketika senja berubah menjadi malam, ia tak juga kembali. Telepon selulernya dihubungi berkali-kali, tetapi tidak dijawab.

Kecemasan mulai mengendap di hati istrinya. Di rumah itu hanya ada mereka bertiga: sang istri, putra semata wayang mereka Ano, dan malam yang semakin terasa panjang. Ano adalah kebanggaan mereka. Sejak kecil ia didiagnosis autisme. Jalan hidupnya tidak mudah. Namun dengan kesabaran dan ketekunan kedua orang tuanya, Ano perlahan bertumbuh melampaui banyak batas yang dulu terasa berat. Ia bahkan mampu menyelesaikan pendidikan sarjana musik di Universitas Negeri Yogya. Bagi orang tuanya, itu adalah pencapaian yang tidak ternilai.

Pos terkait