KEFAMENANU KABARNTT.ID — Di bawah terik matahari Desa Banain C, Kecamatan Bikomi Utara, suara sekop, tawa, dan lantunan gong bercampur menjadi satu dari halaman rumah adat Nai Babu. Debu beterbangan, aroma tanah basah menyeruak, dan di antara riuhnya kerja bakti, tampak para lelaki mengangkat batu fondasi sementara para perempuan sibuk di dapur belakang menyiapkan santapan untuk semua. Hari itu bukan sekadar hari kerja biasa, melainkan awal dari sebuah kebangkitan budaya dan persaudaraan.
Setelah bertahun-tahun berdiri menantang waktu, rumah adat Nai Babu akhirnya direnovasi. Atapnya yang mulai lusuh, tiang-tiang kayu mulai lapuk, dan ikatan tali sudah longgar. Namun di balik kerusakan itu, tersimpan tekad besar untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Kembali ke Akar, Menyatukan Keturunan
Tokoh adat dari rumah Nai Tnopo Ana, Gaspar Tuname, enjelaskan, Ia datang jauh-jauh dari “Meko siklote Kane bute’e”, sebuah perjalanan batin dan fisik yang mencerminkan makna pulang ke asal-usul.

“Kami melihat atap rumah adat sudah lusuh, ikatan tali terlepas. Maka kami memperbaikinya supaya wajah rumah adat ini kembali bagus,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Bagi Gaspar, rumah adat bukan hanya bangunan, tetapi simbol jati diri. Ia mengumpulkan saudara laki-laki, saudari perempuan, dan para tetua dalam pertemuan tiga malam berturut-turut. Dari sanalah lahir keputusan untuk memulai perbaikan Nai Babu lebih dahulu, lalu akan dilanjutkan dengan Nai Tnopo Ana.







