Oleh Tony Kleden
Kami beda dua angkatan. Baik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng maupun di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Kornelis Kewa Ama dua tahun di depan kami. Kami bagi jalan setelah Kornelis meninggalkan Ledalero, bukit matahari terbit itu.
Angkatan ini, baik di Hokeng maupun di Ledalero, terkenal dengan beberapa nama yang jadi seniman kata. Saat masih di Hokeng ada Paul Budi Kleden (Uskup Agung Ende), Philips Gobang (Jakarta), JB Kleden (Kupang), Fery Bataona (Manado?), Doni Dominikus (Pematang Siantar).
Ketika di Ledalero tambah lagi beberapa nama, seperti Yustin Coupertino (Bandung), Yulius Yasinto (Roma), juga Martin Bhisu (Paraguay). Nama terakhir ini jadi terkenal karena sangat dekat dengan Uskup Paraguay, Mgr. Fernando Armindo Lugo Mendez, SVD, yang kemudian menjadi presiden negara Amerika Latin itu periode 2008-2012.
Baik di Hokeng maupun di Ledalero, Kornelis Kewa Ama, biasa disapa Korke. Tentu itu akronim dari Kornelis Kewa. Saat angkatan mereka ‘pegang kekuasaan’ di Hokeng (biasanya kelas II dan III), yang jadi Ketua OSIS adalah Paul Budi Kleden. Kornelis Kewa Ama jadi Ketua Seksi PU (Pekerjaan Umum). Tugasnya adalah membagi, mengawas dan mengontrol kerja tangan (opus manuale) para siswa seminari setiap hari Rabu dan Sabtu.
Di Ledalero, ketika angkatan mereka ‘berkuasa’, Kornelis jadi koster. Koster bertanggung jawab menyiapkan, mengatur, memelihara perlengkapan misa, juga menjaga kebersihan dan kerapian gereja/kapela. Koster Ledalero kerjanya di Kapela Agung.







