Mengenang Kornelis Kewa Ama: Wartawan Sebagai Advocatus Diaboli

tony kleden1

Pada situasi dan kondisi seperti ini, kita butuh wartawan yang berperan sebagai advocatus diaboli. Yang tampil sebagai setan yang menyelamatkan justru dengan terus menerus mengganggu dan mengusik. Mengganggu dan mengusik melalui bahasa berita.

Ama Kor, Hari Minggu, 8 Maret 2026 pagi, kita masih saling menyapa di pintu Gereja St. Yosep Pekerja Penfui usai sama-sama mengikuti misa pertama.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Ade, saya sakit le. Baru keluar dari rumah sakit.” Itu responmu ketika saya memberimu semangat.

Semalam, menyebar berita kepergianmu. Yang tragis dari kabar duka itu adalah Ama ditemukan di pinggir jalan dalam kondisi tidak sadar. Kami, dan tentu saja keluargamu, bukan meratapi kepergianmu. Ratapan kami adalah caramu pergi, pamit dari keluarga dan kami semua.

Ama, banyak terima kasih atas kebersamaan. Kebersamaan sejak dari lembah sejuk Hokeng, bukit sandar matahari Ledalero hingga di kota karang Kupang. Terima kasih untuk teladan konsistensi sikapmu sebagai seorang wartawan yang berkarakter dan berintegritas.

Selamat memasuki Yerusalem baru, Ama. *

  • Penulis, wartawan, tinggal di Kupang

Pos terkait