Sebagai wartawan, Kornelis berbeda dengan kebanyakan wartawan, apalagi wartawan yang lebih suka menunggu rilis. Dia adalah pendekar lapangan. Dia menggali informasi dari sumber primer di lapangan. Berita atau laporannya jarang mengutip suara pejabat.
Jarang Kornelis menghadiri jumpa pers yang digelar pejabat pemerintah dan atau pihak ketiga. Kalaupun hadir, Kornelis tidak biasa menulis keterangan dari jumpa pers itu. Bagi dia, keterangan dalam jumpa pers itu cuma informasi awal yang perlu diuji dan diverifikasi di lapangan.
Tak heran berita dan atau tulisannya adalah tentang hidup harian masyarakat. Tentang beban derita yang membelenggu. Tentang warga yang bermuram durja ketiadaan akses ke pasar akibat banjir bandang. Tulisan atau beritanya, karena itu, sangat kuat dengan corak realisme sosial. Dengan corak seperti ini, Kor menempatkan diri dan profesinya pada tempat yang paling terhormat, yakni profetic journalism. Sebab bagi dia, wartawan itu bukan modus operandi semata, tetapi lebih jauh juga merupakan sebuah modus vivendi, bukan sekadar suatu preferensi profesional, tetapi juga suatu komitmen eksistensial.
Hari-hari ini kondisi hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Hidup dan kehidupan mengalami banyak deviasi. Lembaga-lembaga, institusi-institusi yang bertugas mulia menjaga moral banyak yang masuk angin, yang bertugas mengatur tata cara dan laku hidup lebih banyak urus diri sendiri. Dan yang bertugas bersuara untuk kepentingan banyak orang lebih asyik dan sibuk menghitung tunjangan ini dan itu.






