Mengenang Kornelis Kewa Ama: Wartawan Sebagai Advocatus Diaboli

tony kleden1

Bertugas sebagai Ketua PU  di Hokeng dan koster di Ledalero, tentu saja sesuai dengan kecakapan, kapasitas dan potensi diri yang ada pada Kornelis.  Itu sebabnya, ketika mendengar kabar bahwa Kornelis jadi wartawan Kompas, banyak dari antara kami terhenyak. Tidak percaya. Kami ragu. Banyak pertanyaan muncul di benak. Kornelis tembus Kompas? Masa iya? Bagaimana caranya?

Saya masih ingat betul, November  1996, saya bertemu lagi Kornelis di Dili. Sama-sama wartawan. Kornelis bertugas sebagai wartawan Kompas di Dili. Saya belum setahun di Pos Kupang. Pada Pesta Kristus Raja Alam Semesta November tahun itu, ada peresmian Patung Cristo Rei (Kristus Raja) yang tenar dan jadi ikon Kota Dili itu. Sebagai wartawan Pos Kupang,  saya ke Dili  membuat reportase bersama seorang rekan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Kapan dari Jakarta?” Kornelis tanya saya.

“Dari Jakarta…??” Saya bingung dan balik bertanya.

“Iya, kapan dari Jakarta? Saya dengar ade di Media Indonesia… Saya penempatan di sini. Wartawan Kompas,” kata Kornelis.

“Saya di Pos Kupang. Ini ID saya,” saya meyakinkan dia.

Kami kemudian berbagi cerita. Saya tanya bagaimana ceritanya bisa masuk Kompas?

Kornelis tertawa. Dia tahu, ini pertanyaan besar yang bikin penasaran. Masuk Kompas itu ‘sesuatu sekali’ bagi kami yang putuskan tekad jadi pemulung kata. Kompas itu ibarat surganya wartawan.

“Setelah berhenti dari Ledalero, saya ke Pangkalpinang, mengajar sebagai guru di sana. Tetapi setelah dengar informasi ada lowongan di Kompas, saya menghadap Uskup Hila (Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Pangkal Pinang) dan kastau kalau saya mau lamar ke Kompas. Uskup  Hila beri saya katabelece (memo/rekomendasi) untuk beri ke Daniel Dhakidae (Kepala Litbang Kompas),” tuturnya. Sebelum jadi Uskup Pangkal Pinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, adalah guru dan pembina kami di Seminari Hokeng.

Pos terkait