Mengenang Kornelis Kewa Ama: Wartawan Sebagai Advocatus Diaboli

tony kleden1

Demikianlah, Kornelis Kewa Ama wartawan Kompas.  Kalau menulis berita dia menggunakan inisial kor.

kowaama 3
Kornelis Kewa Ama

Mengapa tidak mau penempatan di Sumatera? “Saya disuruh pilih. Mau ke Batam, Jakarta atau Timor Timur? Saya pilih Timor Timur, karena waktu praktek (sebagai frater) saya di sini (Timor Timur), sehingga mengerti satu dua kata bahasa Tetun,” ceritanya memberi alasan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tahun 1999 Timor Timur lepas dari Indonesia. Kornelis pindah tugas ke Semarang. Tetapi tugasnya di Dili punya kenangan heroik. Nyawanya nyaris  melayang ditebas kelewang.

Kita tahu, lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi melewati tragedi berdarah. Jajak pendapat  (referendum) 30 Agustus 1999 memenangkan pro kemerdekaan.  Hasil jajak pendapat yang di luar dugaan ini memicu kerusuhan berdarah. Dili merah. Api berkobar di mana-mana. Perang saudara meletus. Korban nyawa berjatuhan meregang nyawa.

“Saya ikut lari selamatkan diri  bersama warga pro integrasi. Tetapi sampai di satu tempat, saya kena tembak di dada. Untung saya pakai rompi anti peluru yang diberi Kompas. Saya dengar mereka (milisi) teriak, Flores merah juga e….  Mereka tembak di paha dan saya jatuh. Seorang bapa angkat kelewang mau potong saya. Saya teriak dalam bahasa Tetun, kita sama-sama. Bapa itu tidak jadi potong. Dia angkat dan tarik saya dan suruh cepat lari. Saya selamat. Bahasa Tetun selamatkan saya,” tuturnya.

Dari Dili, Kornelis pindah tugas ke kota lain di Indonesia. Dari Semarang kemudian ke Jayapura. Dari Jayapura masuk Kupang hingga pensiun.  Selain dalam negeri, Kornelis beberapa kali melakukan reportase di luar negeri.

Pos terkait