Oleh Kons Beo, SVD
Inikah yang disebut jalan tol menuju Ende Baru? Semua mesti bertolak dari Ende sebagai ibukota kabupaten. Tampilannya mesti asri. Sedap dipandang.
Maka, apapun yang dinilai sebagai batu sandungan menuju Ende nan cantik sepantasnya ‘diatur ulang.’ Dan tentu rencana Pemda Ende bakal berlanjut untuk apa pun yang tak teratur itu….
Dari kisah di Jalan Irian Jaya itu (4 Mei 2026) gelombang reaksi jadi tak terbendung. Pro versus kontra itu biasa. Kenyataan tetaplah kenyataan! Rumah kediaman telah rata tanah. Reaksi simpati gelora membara. Bertumpuh pada rasa kemanusiaan!
Di sisi lain, pijakan yuridis mesti bermarwah. Mengamini ketegasan dan berpihak pada kepastian. Bagaimana pun kenyataan telah terjadi: ‘hukum telah bertindak.’ Dan tangis telah pecah. Dan air mata telah membasahi ladang rasa hati penuh solider…
Tentu tak berhenti di situ. Perang kata pun tak terhindar. Opini, sudut pandang, analisis, tafsiran hingga refleksi kudus telah digulirkan. Ini belum terhitung lagi dengan saling lontar kata rata dan rentetan caci maki. Yang penting bikin lebih seru keadaan. Iya, hanya ingin kibarkan suasana panas.
Ssst…Mungkinkah kisah Jalan Irian Jaya itu pun telah jadi ‘nutrisi bergizi di meja resepsi bermenu politik?’ Pasti iyalah! Paket Deo Do, yang tengah memimpin dalam duet bupati dan wabup ini disinis dan bahkan dikata rata. Pantaskah duet leadership ‘model begini’ dipertahankan? Atau sepantasnya secepatnya dimazhulkan? Isu berhembus. Menjalar ke sana ke mari.







