Yang pasti kisah di Jalan Irian itu telah jadi narasi hukum, kisah kemanusiaan dan narasi atau tepatnya isu politik yang saling bersilangan. Sumber api di Jalan Irian itu telah menjalar dan merambat sana-sini. Terkesan pula semakin tak terkendali.
Maka, sekiranya tak ada jalan lain selain upaya ‘teduhkan suasana.’ Yang bertumpuh pada pikiran bening dan pada sikap nan arif.
Sekiranya ‘tak terlambat nasi telah jadi bubur,’ selalu ada kehendak baik untuk ‘duduk bersama antara pihak-pihak terkait (Pemda Ende, Provinsial SVD Ende dan keluarga terdampak) demi sambung pikiran, tautkan hati.’ Demi mencari jalan terbaik selanjutnya.
Ende Baru tak hanya mesti berawal dari ketegasan dan keberanian. Tetapi iya pun mesti lewati jalan keteduhan hati sebagai satu sinodalitas pembangunan yang bercitra. Tetapi, di atas semuanya, segera surutlah kiranya keadaan genting yang amat tak elok kata. Yang sungguh sumbatkan kepala dan sumpekan hati. Jika demikian maka ini Baru Ende.
Verbo Dei Amorem Spiranti
- Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro – Roma







