Oleh : Kons Beo, SVD
“Rasa kepuasan membuat orang miskin adalah seorang yang kaya, sementara rasa ketidakpuasan membuat orang-orang kaya menjadi seorang yang miskin” (Benjamin Franklin, negarawan dan fisikawan Amerika Serikat, 1706 – 1790)
Inilah bahayanya sekiranya tak pernah ada ‘rasa puas-puasnya.’ Otak digenjot untuk berpikir serius. Dan lalu berbuat sejadi-jadinya. Semacam _’over-action, over-working and doing,’_ atau segala ‘over-active’ lainnya.
Sekiranya pada sadar akan batas-batas diri, maka semua insan ada di batas ‘cukup.’ Sudah tiba di titik kepuasan. Selebihnya? Pasti akan datangkan petaka! Telah diingatkan ulang-ulang oleh Sang Bijak, “Bro, tak ada manusia dengan label paten ‘jago atau kuat.’ Entah kuat mete, kuat begadang, atau jago minum.’ Dan segala macam ‘jago lainnya.’
Toh, pada ketikanya pasti bakal melemah, melempem dan lalu tumbang juga.
Sebab itulah, di satu titik tertentu, biarlah suara lembut dari dalam diri sendiri ditanggapi serius, “Ini cukup dan pas sudah buatku.” Yang namanya ‘kekurangan ini dan itu’ memang mencemaskan. Tetapi ‘yang namanya kelebihan, atau keterlaluan’ bakal lebih banyak ciptakan alam kepelikan dan suasana keonaran.
Saatnyalah, “cukuplah” sepantasnya ditangkap dalam alam batin ‘kepasrahan.’ Kita pasrah dan berserah pada segala kisah dan peristiwa yang telah berlalu. Itulah fakta yang telah dialami dan dilewati. Segala yang pahit dan sepat itulah kenyataan yang tak tersangkalkan. Yang tak seharusnya disesali dalam pemborosan energi penyesalan tak henti-hentinya. “Jangan sesali ikan yang jatuh di air kolam. Dia berenang kemana suka enggan kembali…” begitulah lukisan A. Riyanto. Yang berlalu, biarlah berlalu. Dipetik jadi referensi positif demi hari-hari esok dalam bingkai harapan baru.







