Batas (Sebatas Satu Permenungan)

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Tetapi, segala indah dan sukses mestilah pula ditangkap dalam ceriah. Dimeterai dalam rasa syukur. Terdapat sesuatu ‘ini dan itu’ yang menjadi ‘surprise’ bagi kita. Tidak kah terdapat hal indah yang telah terjadi, yang sebenarnya ‘tak mungkin kita dapatkan’ dalam penilaian standar dan umum. Tetapi, ceriah kita pasti ada di batas ‘cukup’ untuk tak larut dalam euforia yang overdosis.

Memang sepantas kita masuk dan nikmati ‘alam batas dan suasana cukup.’ Kita berjedah barang sejenak untuk masuk dalam syukur, trimakasih dan ikuti alur rasa kagum. Masuk dalam suasana istirahat. Di rumah kediaman sendiri, tentu orang bakal tak dapat nyenyak penuh pulas. Sebab hatinya tak _at home_. Selalu terganggu untuk ‘plus buat ini atau tambah itu. Selalu kurang barang ini dan barang itu.’ Karena itulah hati belum menjadi betah, di tempat di mana ia seharusnya berada.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ssssst, ini mungkin contoh mengada-ada. Seorang suami akhirnya nasihati istrinya agar janganlah terlalu sering ke rumah tetangga, bahkan ke rumah keluarga ‘ade kaka sendiri.’

Ini semua bukan karena tetangga atau sanak keluarga sendiri tak punya perangai yang baik, atau punya sikap yang buruk. Bukan! Sama sekali tidak!

Masalahnya begini: Sang istri yang sering-sering kunjungi sanaknya itu, selalu saja merasa tak cukup. Merasa terbatas dan kurang ini – kurang itu, setiap kali pulang berkunjung. Mulai dari kurang komplit peralatan di dapur, sampai pada ukuran lemari pakaian dan TV yang jadi tak pas lagi di hati.

Maaf…
Ini semua tak berikhtiar agar manusia tak boleh ‘berubah, maju atau berkembang.’ Hidup yang maju dan berkembang itu pasti direstui dan diidamkan oleh siapapun….
Hal yang fisik dan lahiriah semakin hari tampak semakin maju, berubah dan berkembang. Dan itu harus.
Bagaimana pun, hati yang damai dan teduh tentulah mesti terawat semestinya.
Caranya?

Pos terkait