Batas (Sebatas Satu Permenungan)

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Kata si Bijak, biarkanlah sesama bertumbuh dan berkembang dalam bakat, karunia, kemampuan, serta segala potensi yang dimilikinya. Benarlah bahwa dengan sesama siapapun, setiap kita mesti miliki spirit kompetitif. Namun, mesti tercipta satu suasana persaingan yang sehat. Dalam alam pengakuan yang wajar satu sama lain. Sebab, di luar suasana sehat seperti itu orang-orang dapat ‘saling membunuh’ dalam iri hati, fitnah, pembunuhan karakter dalam rumor, penyesatan.

Kata si Bijak pula, “Sekiranya Anda tak sanggup tiba pada rasa kagum pada sesama yang maju dan berkembang dalam diri dan jalan hidupnya, Anda benar-benar terbelenggu dalam ketaknyamanan suasama hati.”
Dan lagi?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ada kisah perumpamaan Yesus di Injil Lukas. Hati yang tak pernah puas, keinginan yang terbelenggu dapat memperbudak. Apa yang telah diraih terus saja ingin diraih. Lalu disimpan, dan ditimbun terus ditimbun seterusnya. Yesus lukiskan hati dengan keinginan yang tak terbatas, yang hanya dapat dibatasi dengan membangun lumbung mahabesar. Demi menimbun segalanya dan sebanyak-banyaknya demi diri sendiri. Tak boleh sedikitpun dijangkau oleh siapapun!

Sayangnya di lukisan akhir kisah itu semuanya berujung pada sia-sia. Ujung tragedi hati yang tak pernah puas dan rasa yang tak pernah cukup:
“Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi Firman Allah kepadanya: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan sesama” (Lukas 12:19 – 21)…

Pos terkait