Sedikit Lebih Jauh tentang ‘Advocatus Diaboli’ [sisip gagas untuk mengenang Kornelis Kewa Ama]

ansel atasoge

Dalam menghadapi arus disinformasi dan post-truth, jurnalis dapat bersandar pada etika Aristotelian tentang keutamaan (virtue ethics), skeptisisme Socrates, atau keberanian eksistensialis ala Albert Camus. Mereka memahami bahwa kebenaran bukan milik mayoritas atau minoritas, melainkan buah dari proses penyelidikan yang jujur dan metodis. Filsafat jurnalistik, sebagai disiplin reflektif, menekankan pentingnya prinsip keadilan, akurasi, dan ketidakberpihakan dalam praktik pemberitaan.

Di samping itu, epistemologi, cabang filsafat yang mengkaji asal-usul dan validitas pengetahuan itu, memberikan kerangka bagi jurnalis untuk mengevaluasi sumber informasi secara kritis. Teori korespondensi kebenaran, misalnya, menuntut bahwa pernyataan dianggap benar apabila sesuai dengan realitas faktual. Ini sejalan dengan prinsip verifikasi dalam jurnalisme yakni fakta harus dikonfirmasi, bukan sekadar dikutip.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kornelis Kewa Ama, dalam liputan-liputannya tentang isu sosial di NTT, memperlihatkan ketekunan dalam proses verifikasi ini. Di titik ini, ia menjadi jembatan antara realitas lapangan dan kesadaran publik.

Etika jurnalistik juga menuntut pertimbangan dampak kemanusiaan dari setiap pemberitaan. Peliputan tentang korban tragedi atau kelompok marginal harus dilakukan dengan menghormati martabat subjek berita. Dalam perspektif filsafat moral, ini adalah wujud dari prinsip ‘respect for persons’ yang menjadi fondasi etika komunikasi. Di sini, wartawan tidak hanya hanya hadir sebagai pencari fakta, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam ruang publik.

Pos terkait