Peran ‘advocatus diaboli’ menjadi semakin relevan di era digital, ketika informasi diproduksi secara massal dan sering kali tanpa filter verifikasi. Jurnalis profesional, dengan bekal filsafat, berfungsi sebagai penyaring kritis yang membedakan fakta dari spekulasi, bukti dari opini. Dengan demikian, jurnalis memiliki kewajiban moral untuk memastikan kebenaran dan akurasi dalam pelaporan mereka karena ini adalah tugas etis yang harus dipenuhi.
Kornelis Kewa Ama meninggalkan jejak penting. Bahwasanya, menjadi wartawan tidak terbatas sebagai profesi teknis, melainkan panggilan moral untuk menjaga akal sehat masyarakat. Dalam tradisi filsafat, ini selaras dengan gagasan ‘phronesis’ (kebijaksanaan praktis) Aristoteles. Sebuah kemampuan untuk bertindak benar dalam situasi konkret yang kompleks.
Di tengah tantangan demokratisasi informasi yang sering kali diiringi polarisasi dan manipulasi, semangat ‘advocatus diaboli’ yang dihidupi Kornelis Kewa Ama menjadi kompas etis yang perlu diwarisi. Filsafat mengajarkan bahwa keraguan yang metodis bukan tanda kelemahan, melainkan jalan menuju kebenaran yang lebih kokoh. Wartawan, dalam arti paling luhur, adalah ‘filsuf praktis’ yang bekerja di garis depan pertarungan makna.
Semoga warisan intelektual dan moral Kornelis Kewa Ama menginspirasi generasi jurnalis berikutnya untuk tetap kritis, jujur, dan berani. Semoga mereka boleh menjadi ‘advocatus diaboli’ yang menyelamatkan masyarakat justru dengan “mengganggu” kenyamanan narasi yang tidak teruji.
- Penulis, dosen Stipar Ende







