“Dengan itu Gubernur Melki juga menunjukkan kepada para bupati/wali kota bahwa Gub punya modal komunikasi yang hebat dengan semua menteri atau kepala lembaga. Sekaligus Gub memberi contoh bagaimana komunikasi dan silahturahmi yang baik dengan pemerintah pusat. Dengan modal komunikasi yang baik, dana tugas pembantuan bisa mengalir ke NTT. Sekali lagi apresiasi untuk Pak Gub,” kata Thomas.
Thomas tidak menampik Pemda NTT masih terlilit utang warisan pemerintahan sebelumnya dan juga efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat sekarang ini.
“Utang itu sesuatu yang baik. Tidak semua pemerintah daerah bisa mendapatkan kepercayaan dari pemerintah pusat dalam hal ini PT SMI untuk mendapatkan pinjaman. Persoalannya adalah apakah utang itu dimanfaatkan untuk pelayanan publik dan menghasilkan kembali berlipat ganda alias multiplier effect? Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang tergolong high income level yang tidak punya hutang. Negara atau daerah yang tidak punya hutang sudah pasti pembangunannya stagnan. Yang punya hutang bisa maju lebih pesat kalau hutangnya tidak dikorupsi, tidak disalahgunakan, tetapi benar-benar untuk pelayanan publik yang produktif,” urai mantan dosen Fakultas Ekonomi Unwira Kupang ini.
Terkait efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat, Thomas mengatakan, “Efisiensi anggaran oleh pempus sudah pasti tujuannya baik. Pempus mempunyai pertimbangan bahwa mungkin saja selama ini banyak anggaran yang tidak digunakan semestinya, pemborosan dan mungkin saja hanya dinikmati oleh oknum tertentu. Dengan adanya efisiensi harapan kita adalah dananya diarahkan kepada sektor-sektor produktif yang memiliki multiplier effect tinggi agar tetap memacu pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, meningkatkan daya beli dan tetap menjaga stabilitas ekonomi, termasuk surplus ekspor atau minimal menjaga keseimbangan neraca perdagangan.” (den)







