Rahmat juga mengatakan, keputusan membuka posko diambil karena kebutuhan masyarakat belum berhenti. “Bank NTT sudah bergerak sejak awal melalui seluruh Kantor Cabang di Flores. Tetapi kami melihat kebutuhan masyarakat masih terus ada,” ujar Rahmat.
Karena itu, posko dibuka agar bantuan dari berbagai pihak dapat dihimpun dan disalurkan secara lebih terorganisasi.
Ada hal lain yang membuat gerakan ini menjadi penting. Bank NTT memiliki jaringan kantor yang tersebar di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur. Jaringan tersebut selama ini dikenal sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan pelayanan perbankan.
Namun, ketika bencana datang, fungsi itu menemukan makna yang lebih luas. Kantor-kantor Bank NTT dapat menjadi titik yang mendekatkan bantuan dengan masyarakat.
“Dalam situasi seperti sekarang, jaringan Bank NTT tidak boleh hanya menjadi jaringan bisnis dan pelayanan perbankan. Jaringan ini juga harus menjadi jaringan kepedulian,” kata Rahmat.
Menurut dia, keberadaan pegawai dan kantor Bank NTT yang berada dekat dengan masyarakat merupakan kekuatan yang dapat digunakan dalam situasi bencana.
Ada alasan yang lebih dalam di balik pilihan tersebut. Yakni, Bank NTT tumbuh dari kepercayaan masyarakat NTT. Masyarakat menabung, bertransaksi, dan mempercayakan berbagai kebutuhan perbankannya kepada bank daerah tersebut.
Maka, ketika sebagian masyarakat sedang menghadapi masa sulit, Bank NTT merasa perlu berada di sisi mereka. “Bank NTT bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang karena kepercayaan masyarakat NTT. Karena itu, ketika masyarakat mengalami musibah, sudah seharusnya Bank NTT hadir dan menunjukkan kepedulian,” tegas Rahmat.







