Sementara Direktur Kepatuhan Bank NTT, Christofel Adoe, berterima kasih karena BPD Kalsel mau menjadikan Bank NTT sebagai mitra dalam sebuah kolaborasi cerdas dalam membangun sebuah sistem layanan perbankan berkualitas, serta berbasis digital.
“Ini bukan belajar, tetapi teman-teman dari Kalsel datang agar kita berbagi bersama. Kami bisa belajar dari kelebihan BPD Kalsel, dan teman-teman bisa belajar juga dari sini. Sebenarnya kunci keberhasilan kami di sini adalah kerja keras dan kerja bersama. Kolaborasi dari semua divisi berjalan baik,” tegas Christ.
Terkait layanan perbankan berbasis digital, menurutnya, bukan tanpa risiko, melainkan memiliki risiko tinggi. Karena itu, Bank NTT terus melakukan proteksi terhadap keamanan data nasabah, agar jangan bocor ke mana-mana. Ini adalah jaminan kualitas dalam layanan digital perbankan.
Direktur Operasional Bank Kalsel, Ahmad Fatrya Putra, menyebut Bank Kalsel mengadaptasi dan bersinergi dengan Bank NTT sebagai upaya mempermudah transaksi bagi nasabah secara digital dan mendukung ekonomi masyarakat.
Dikatakannya, adaptasi digital ini antara lain adalah transformasi SBS, Smart EDC, juga akuisisi Laku Pandai yang dilakukan karena selama ini dinilainya masih belum optimal pengelolaan transaksi keuangan daerah secara digital dan non tunai, khususnya penerimaan daerah yaitu pajak dan retribusi.
“Untuk layanan digital seperti QRIS dan Laku Pandai dalam proses perizinan,” katanya.
Sedangkan, transformasi digital dengan SBS saat ini hanya sebatas satu cabang milik Bank Kalsel dan diharapkan adaptasi dengan Bank NTT ini dapat memaksimalkan pengelolaan keuangan dalam penerimaan pajak dan retribusi.







