WAINGAPU kabarntt.id—Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, optimis angka stunting di Sumba Timur bisa diturunkan. Penanganan stunting bahkan masuk dalam RPJMD sebagai salah satu misi dalam kepemimpinannya bersama Wakil Bupati, David Melo Wadu.
Untuk diketahui Kabupaten Sumba Timur masih tercatat sebagai salah satu wilayah dengan status kuning untuk stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Bupati Sumba Timur Drs. Khristofel Praing mengatakan pemerintah kabupaten sungguh sungguh dalam menangani persoalan stunting di wilayah itu. Penanganan stunting bahkan masuk dalam RPJMD sebagai salah satu misi dalam kepemimpinannya bersama wakil bupati David Melo Wadu.
Isu stunting, kata Bupati Praing, Sabtu (5/3/2022), tidak hanya menjadi isu lokal atau regional saja. Isu stunting bahkan kini telah menjadi isu nasional hingga internasional.
Pada masa kepemimpinannya, kata Bupati Praing, dirinya telah menegaskan kepada seluruh jajaran baik di level kabupaten hingga desa untuk bekerja sungguh-sungguh menangani persoalan masyarakat termasuk stunting.
Kesungguhan itu bahkan menjadi dasar penilaian kinerja jajarannya dalam melayani masyarakat.
“Ukurannya sederhana saja. Kalau mau lihat camat, kepala desa, lurah atau pemimpin semua level bekerja atau tidak, maka kita lihat tingkat ekonomi masyarakat meningkat atau tidak, derajat kesehatan meningkat atau tidak, tingkat pendidikan, kohesi sosial, hubungan dan toleransi masyarakat baik atau tidak? Itu saja. Kalau semua bisa berjalan saya pikir kita sudah berhasil,” kata Bupati Praing.
Dengan dasar itu, Bupati Praing optimis bisa menurunkan angka stunting di Kabupaten Sumba Timur selama masa kepemimpinannya Bersama Wakil Bupati.
Hal tersebut dilakukan agar sejalan dengan pencapaian target prevalensi stunting secara nasional menjadi 14 persen pada 2024.
Karena itu pemerintah bekerja ekstra dengan berbagai pendekatan untuk menangani dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat termasuk menurunkan angka stunting.
“Harus diawali dengan optimisme, tidak bisa dengan pesimis. Kalau pesimis saja ya selesai, harus optimisti. Saya bisa lakukan, entah hasilnya seperti apa kita lihat nanti, tapi harus ada target,” kata Bupati Praing.
Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, selain Sumba Timur, ada enam kabupaten lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang juga masuk kategori kuning, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Kota Kupang dan Flores Timur.
Status kuning itu disematkan berdasarkan prevalensi stunting antara 20 hingga 30 persen untuk masing masing daerah.
Selain ketujuh kabupaten tersebut, 15 kabupaten lainnya dari 22 kabupaten/kota di NTT juga masih berstatus merah dalam kasus stunting karena prevalensi stunting berada di atas angka 30 persen. (np)







