KEFAMENANU kabarntt.id – Para penjual daging babi di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan minat pembeli daging babi yang menurun drastis.
Dampak menurunnya pembeli daging babi di TTU pada umumnya, khususnya di Pasar Baru Kota Kefamenanu karena virus African Swine Fever (ASF) yang saat ini menyerang ternak babi di TTU.
Yustina Yuliana Wahi, salah satu pedagang daging babi di Pasar Baru Kefamenanu kepada wartawan, Selasa (14/2/2023), mengeluhkan menurunnya minat pembeli daging babi akibat merebaknya virus ASF yang berdampak pada omzet penjualan.
“Virus ASF ini buat minat pembeli semakin kurang, tidak seperti biasanya,” kata Yuliana.
Diungkapkannya, merebaknya virus ASF membuat pendapatannya menurun, bahkan terkadang jualannya pun tidak habis terjual.
“Sebelum itu, rata-rata perhari kita dapat Rp 500.000, tapi dengan adanya virus ini kadang-kadang daging kita bawa pulang karena tidak habis,” tutur Yuliana.
Yuliana berharap adanya perhatian pemerintah, dalam hal ini Dinas Peternakan Kabupaten TTU agar melakukan pemeriksaan rutin bagi babi yang akan dipotong sehingga daging babi yang dijual tidak menimbulkan kecemasan bagi pembeli akibat merebaknya virus ASF tersebut.
Perlu diketahui, sejauh sebanyak 16 ekor ternak babi di TTU dikabarkan mati mendadak. Jumlah itu tersebar di Desa Oesena, Kecamatan Miomafo Timur 3 ekor, Kelurahan Kefa Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu 3 ekor, Desa Oepuah 8 ekor dan Desa Oepuah Selatan sebanyak 2 ekor.
Dinas Peternakan Kabupaten TTU pun telah melakukan sosialisasi melalui mimbar-mimbar gereja yang ada serta melakukan pembagian disinfektan kepada peternak agar disemprotkan ke kandang masing-masing.
Selain itu, Bupati TTU juga telah menerbitkan surat edaran bagi para peternak agar mengingatkan masyarakat lebih waspada terhadap penyebaran virus ASF. (siu)







