WAIBAKUL kabarntt.id—Sebanyak 9 partor dan 2 frater dari Provinsi Redemptoris Indonesia Keuskupan Waitabula melakukan kegiatan misi umat di Gereja Stasi Herman Yosef Waimamongu, Sumba Tengah, Minggu (5/3/2023).
Misi umat ini akan dilaksanakan dua bulan penuh dan bertujuan untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada umat Katolik dan merangkul umat yang jauh dari jangkauan redemptoris. Tema misi umat ini “Bangkitlah dan bergeraklah”.
Wakil Provinsial Redemptorist Indonesia, Pater Marianur Dapa Talu, CSsR, menyampaikan, misi umat memang sejak awal tujuannya pembaharuan iman umat.
“Singkatnya dia itu konsentrasinya pada orang Katolik sendiri, untuk menghindari jangan sampai kita ada mengkatolikkan orang lain. Tapi ini untuk pembaharuan iman umat Katolik. Mungkin selama ini orang Katolik tidak terjangkau dari paroki, mungkin ada halangan-halangan tertentu atau juga mungkin tempatnya atau karena keterbatasan tenaga,” kata Pater Yanus, sapaan Pater Marianus.
Pater Yanus mengatakan, misi ini sudah dikhususkan sehingga anggota timnya besar dengan maksud bisa langsung menyapa umat di tempat mereka masing-masing.
“Juga agar kita mendengarkan, sebenarnya kita pergi untuk mendengarkan mereka. Kita pergi mencari tahu sebenarnya mereka itu ada apa di rumah. Kita kalau kotbah itu tidak bicara saja dari apa yang kita bayangkan tetapi berdasarkan dari pengalaman hidup konkrit mereka. Kita menyapa mereka dalam situasi yang paling konkrit. Pembaharuan hanya bisa kalau kita tahu betul apa yang mereka butuhkan,” jelas Parer Yanus.
Dalam kotbahnya, Pater Yanus juga menegaskan bahwa kata-kata Santo Alfonsus yang menjadi pendiri kongregasi misi umat ini, bahwa redemtoris tidak boleh menunggu umat atau orang datang kepadanya. Tetapi dia harus mengambil inisiatif untuk pergi mengunjungi dan menemukan mereka.
Santo Alfonsus juga mengatakan, bagi seorang redemtoris itu tidak ada tempat yang tidak bisa dijangkau, sesulit apapun tempatnya seorang redemtoris harus mampu menjangkau tempat itu.
Ketika ditanya terkait misi umat ini juga menjadi rekomemdasi stasi bisa berdiri sendiri menjadi paroki, Pater Yanus menegaskan bahwa sebenarnya pihaknya dalam misi umat ini memang pointnya bukan mendirikan paroki.
“Bahwa nanti kalau ada implikasinya ke depan itu kan akibat lain sudah sesuatu yang positif. Kalau itu memungkinkan, kenapa tidak? Tapi yang paling penting bahwa umat Katolik betul-betul siap. Kita mau alihkan mereka siap untuk peralihan begitu. Saya kira itu tidak ada kesulitan, memang ada kesan di mana-mana kami buat misi umat untuk menjadi rekomendasi menjadi paroki, tapi kami menghindari itu bahwa kami tidak sedang mempersiapkan stasi menjadi paroki,” bebernya.
Sementara Pater Willy Ngongo Pala, CSsR, menyampaikan jika kriteria menjadi paroki mengikuti kriteria Keuskupan, maka stasi harus mandiri dalam hal imam dan tenaga pastoral serta wilayah dan finansial.
Jika kemandirian ini sudah terpenuhi, maka stasi bisa meningkat statusnya menjadi paroki.
“Tapi kami tegaskan bahwa kami di sini bukan untuk itu, tapi untuk pembaharuan iman umat,” tegas Pater Willy.
“Misi umat itu bertugas untuk pembaharuan iman umat dan mendidik umat untuk beriman. Sedangkan yang lain ya implikasinya kalau memang di kemudian hari stasi ini bisa menjadi paroki, kenapa tidak? Tetapi itu menjadi reksa pastoral dari paroki yang mengurus stasi ini, bahwa kami juga bisa dimintai keterangan, dimintai rekomendasi, kami mungkin akan merekomendasikan secara obyektif saja supaya pastor di sini jangan menderita lagi,” jelas Pater Willy. (np)







