Topografinya lumayan baik. Rata seperti Sumba Barat Daya. Ini berbeda dengan Kabupaten Ende, Ngada, Nagekeo dan tiga Manggarai yang juga terkenal subur. Sebagian kabupaten di daratan Flores yang disebut di atas sangat subur. Yang kurang adalah topografinya yang bergunung dan berbukit itu mengakibatkan pembangunan infrastruktur jalan raya menjadi sulit dan sangat mahal. Seterusnya, sulitnya sarana jalan itu menutup aksesibilitas warga ke kota dan atau ke pasar.
Sebaliknya Malaka, daerahnya rata, tidak bergunung dan berbukit. Pembangunan sarana jalan tidak mahal dan tidak sesulit medan di Flores. Kalau hari ini belum banyak jalan dibangun di Malaka, itu juga akibat sejarah ketika Malaka masih bergabung dengan Kabupaten Belu di mana pemerintah dengan keterbatsan dana menentukan prioritas-prioritas pembangunan yang harus dikerjakan.

Dengan keunggulan komparatif seperti ini, Malaka mestinya sudah jauh lepas landas untuk urusan pencapaian kesejahteraan. Tetapi mengapa tidak begitu? Mengapa Malaka masih termasuk satu kabupaten miskin di NTT?
Agaknya pertanyaan gugatan seperti ini juga mengganggu benak dan merasuk hati sosok bernama Stef Bria Seran, bupati perdana Malaka yang lebih kondang dengan panggilan SBS.
Latar belakang sebagai seorang dokter sangat mempengaruhi pola pikir dan pola tindaknya. SBS bukan tipe orang yang bisa diam berlama-lama. Dia cepat bereaksi. Cepat ‘panas’. Menghadapi setiap persoalan SBS tidak mau lama-lama melihat. Dia ingin cepat bertindak. Mencari jalan keluar.







