Gubernur Viktor juga mengapresiasi masyarakat Lewokluok yang sudah menjaga warisan nenek moyang dengan baik. “Kita apresiasi masyarakat Kampung Adat Lewokluok yang tetap menjaga budaya dan adatnya, serta tradisi-tardisi yang berlaku bersama norma dan nilai-nilai disini,” kata Gubernur Viktor.
“Di sini banyak narasi menarik mengenai budayanya. Juga saya apresiasi para ibu-ibu kelompok tenun. Karya tenunan yang dihasilkan dengan motif-motif yang beragam dan indah itu adalah buah kecerdasan yang hebat dan itu adalah kekayaan intelektual,” ujar Gubernur Viktor.
“Kekayaan intelektual itu mahal dan kita harus berbangga karena kita memiliki itu. Meski ibu-ibu sekalian adalah masyarakat desa, tetapi harus bangga karena bisa menghasilkan karya-karya unik, indah, dari kain tenun sebagai hasil dari kecerdasan menenun yang luar biasa,” kata Gubernur Viktor.
Menghargainya sebagai karya intelektual, Gubernur Viktor mengajak semua masyarakat untuk tidak lagi menyebut kain tenun sebagai kerajinan tangan.
“Mulai hari ini jangan lagi bilang kerajinan tangan. Saya paling tidak suka dengar istilah itu. Kain tenun itu karya hebat, karya intelektual. Kain tenun itu karya intelektual,” tandas Gubernur Viktor disambut tepuk tangan warga.
Sebelumnya Kepala Desa Lewokluok, Yosep Ike Goran, menjelaskan Kampung Adat Lewokluok masih sangat kuat dan tetap mewarisi dan menjaga kekayaan adat dan budaya di antaranya tradisi menanam, panen, pernikahan, kelahiran dan kematian.
“Kita juga usulkan agar kekayaan intelektual kita dengan kain tenun asal Lewokluok ini bisa mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI),” ujarnya.







