Untuk itu, seluruh masyarakat wajib menjaga dan merawat kesepakatan tersebut. Salah satunya dengan mengimplementasikan Empat Bingkai Kerukunan.
“Pertama, bingkai teologis, selalu mengedepankan dan mengembangkan sikap moderasi dalam beragama, menumbuhkan pemahaman teologi kerukunan, bukan teologi konflik. Dengan demikian kami hadir pada event yang diselenggarakan Keuskupan Ruteng. Saat ini kami tampil dengan mengedepankan pendekatan kultural dan kearifan lokal, serta bijak dalam berinteraksi sosial,” kata pria Siru, Kecamatan Lembor ini.
Pada kesempatan itu, Ustad Ali yang terkenal sebagai ustad milenial ini berharap bahwa kerukunan itu adalah harapan dunia dan juga harapan Nahdatul Ulama.
“Perbedaan yang ada merupakan suatu kodrat dan sunnatullah, harus selalu dijaga dan dipelihara untuk kemaslahatan bersama. Perbedaan bukan berarti untuk melahirkan dan menebarkan kebencian dan permusuhan. Kebebasan menjalankan agama baik musyrik maupun ahlu al-kitab adalah bagian dari Syariat Islam,” katanya. (ias)







