Pemberdayaan pelaku UMKM yang sudah ada dipercaya PT SMI untuk harus dipersiapkan sebelum perkembangan infrastruktur selesai demi tidak tergerus dengan perubahan sosial dan ekonomi yang akan datang.
“Pelaku UMKM di Labuan Bajo harus bisa bersaing dengan destinasi wisata yang sudah ada dan berdekatan secara geografis, seperti Bali dan Lombok, dalam hal keunikan produk yang bisa menjadi representasi Labuan Bajo,” pungkasnya.
Ia berharap dengan pelatihan tersebut, pelaku UMKM akan bertambah kapasitasnya, baik hardskill maupun softskill, terutama dalam pengembangan bisnis yang dibutuhkan saat ini. Juga di masa depan saat gelombang wisatawan dan pendatang baru masuk ke Labuan Bajo.
Dikatakannya, pelatihan tersebut secara khusus ditujukan bagi pelaku usaha perempuan, karena pemberdayaan perempuan harus secara intensif, kontinyu, dan konsisten di Indonesia guna mencapai dampak sosial dan ekonomi yang maksimal.
Bermaksud untuk berkontribusi pada tatanan masyarakat yang adil gender, PT SMI dan ANGIN berafiliasi dengan satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UN Women, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam penyediaan modul pelatihan.
Sebanyak lima tokoh UMKM Indonesia juga dihadirkan dalam pelatihan secara virtual melalui video. Lima tokoh yang terlibat adalah Halida Hatta sebagai penggerak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Julie Laiskodat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Brahmantya Sakti sebagai pendiri dari UMKM bidang pariwisata Triptus.com, Maria Isabella, sebagai pendiri UMKM bidang produk turunan tenun Copa de Flores, Ridwan Hilmi sebagai Direktur Yayasan Bumi Insan Mandiri.







