Stunting 44 Persen, Wabup SBD Ragukan Alat Ukurnya

marthen christian taka1

“Sekarang ini kami sedang berada pada  kegiatan ukur, timbang, pemberian vitamin, kepada sasaran batuta stunting. Hasil pendataan kami di bulan Februari yang lalu bahkan berakibat terjadi kenaikan dari 34 persen lebih dan pada Februari 2022 menjadi 44,4 persen. Namun sekarang kami sedang berproses untuk ukur, timbang pada periode Agustus tahun 2022 ini.  Yang saya mau menggarisbawahi ini adalah pertama, masalah anggaran. Barangkali juga ini menjadi cacatan untuk tingkat atas sehingga kami di tingkatan bawah punya nafas yang lega sedikit untuk semangat turun perang, Karena perang ini terlaksana di desa,” beber Christian Taka.

Yang kedua, sebut Christian Taka, menjadi kesulitan di SBD yakni masalah kekurangan SDM khususnya dalam jajaran dinas kesehatan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Pemanfaatan alat timbang ini juga menjadi kesulitan. Alat timbang yang diwajibkan itu adalah alat timbang antropometri yang notabenenya bisa terjadi  eror atau terganggu. Untuk kembalikan ke posisi  normal/nol itu juga butuh keterampilan khusus bagi mereka yang memanfaatkannya,  tidak mungkin saya yang awam bisa pake alat itu untuk timbang anak-anak,” katanya.

Christian Taka  agak meragukan alat ukur yang digunakan di SBD yang berakibat melonjaknya angka stunting.

“Saya cukup khawatir dari hasil pendataan yang lalu  yang menyatakan SBD urutan ke-2 tertinggi stunting di NTT. SBD bukan kekurangan makanan, kekurangan beras padi ya, tapi kekurangan bahan makanan saya yakin tidak. Saya tidak terima itu,” kata kader Golkar itu.

Christian Taka menyatakan, SBD akan buktikan persentasenya obyektif  seperti apa pada bulan Agustus ini.

Pos terkait