“Masyarakat Australia biasanya cukup peka dengan kebutuhan warga terdampak bencana. Mereka pasti cepat melakukan apapun untuk membantu sesama korban,” kata Melinda Miller, warga Australia yang ikut memberikan sumbangannya untuk warga Ile Ape saat berlangsung aksi penggalangan dana.
Menurut Melinda, ia sudah beberapa kali ke Lembata. Ia mengakui, Lembata adalah sebuah pulau eksotis, alamnya sangat indah, dan masyarakatnya sangat menjunjung tinggi solidaritas sosial. Karena itu ia cukup muram saat mendengar tentang erupsi Ile Lewotolok dan dampak buruknya bagi warga.
Melinda, guru musik di sebuah sekolah swasta di Kota Melbourne, yang fasih berbahasa Indonesia, juga mengakui kondisi jalan antarwilayah masih perlu dibenahi pemerintah setempat.
“Lembata itu alamnya memang sangat indah, genit. Sayang, kondisi jalanannya jelek. Naik oto di Lembata buat jantung dig dag dug tak henti,” ujar Melinda mengenang liburannya di Lembata beberapa tahun lalu.
Silvinus Lado Ruron, guru Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama di salah satu Sekolah Katolik di Melbourne, menyatakan, bencana erupsi Gunung Lewotolok telah mengajak banyak orang bersimpati dan membantu dengan caranya masing-masing.
“Bantuan di saat bencana merupakan bentuk solidaritas, bahkan sebuah keharusan etis,” ujar Sil, warga asal Lamatou, Flores Timur, yang tinggal di Melbourne sejak akhir 1990-an.
Warga asal NTT lainnya di Melbourne, Yoseph (Anselmus) Pegu, mengamini pentingnya solidaritas sosial menyikapi bencana yang menimpa sesama, termasuk korban erupsi Gunung Lewotolok.







