Aspek itu, kata pria asal Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, yang mendorongnya menginisiasi dompet bencana untuk Lembata melalui grup WhatsApp NTT Diaspora Melbourne yang dikelola Justin Wejak, akademisi berambut gondrong ala penyanyi reggae Bob Marley.
Rufin Kedang, pensiunan dosen asal Waibalun dan sesepuh komunitas NTT Diaspora di Melbourne, sepakat dengan gagasan dompet bencana untuk Lembata pasca-erupsi Gunung Lewotolok.
“Sumbangan biar sedikit, tapi jika dikumpulkan tentu menjadi banyak dan bernilai,” ujar Rufin, yang sudah puluhan tahun tinggal di Kota Melbourne sejak medio-1970an.
Justin mengakui, uang yang terkumpul warga NTT Diaspora di Melbourne disalurkan melalui Caritas Titen Lembata (CTL) yang diketuai Herman Loli Wutun dan Justice, Peace and Integration for Creation (JPIC) SVD Ende, Flores.
Kedua lembaga nirlaba ini, kata Justin, sudah banyak dikenal selalu membantu warga yang hidup susah akibat bencana alam maupun warga terdampak virus korona (Covid-19).
“Para donatur senang bahwa bantuan uang ala kadarnya itu sudah dibelanjakan untuk keperluan pangan para pengungsi Ile Ape. Bantuan apapun itu merupakan tanda kasih dan kepedulian tak terhingga,” kata Justin yang juga admin grup WhatsApp Ata Lembata sekaligus editor buku Membangun Tanpa Sekat, yang baru saja diterbitkan memperingati HUT ke-21 Otonomi Lembata pada 12 Oktober 2020 lalu.
Menurut Justin, laporan donasi ala kadarnya warga NTT di Australia itu bukan untuk pamer kebaikan atau demi pencitraan diri, apalagi untuk tujuan politik, melainkan semata untuk menyampaikan warga terdampak erupsi Ile Lewotolok bahwa sesungguhnya mereka tak pernah sendirian.







