Dev mengungkapkan, target yang ingin dicapai dari pelaksanaan workshop ini adalah para remaja yang sementara duduk di bangku SMP dapat menerima informasi terkait dengan gizi remaja dan CTPS sehingga dapat membantu mereka pada usia pertumbuhan.
“Ini menjadi satu rangkaian ketika mereka mendapatkan kemampuan untuk dapat menjaga kesehatannya secara mandiri, berdampak baik untuk masa depannya,” tutur Dev.
Lanjut Dev, “Khusus untuk remaja putri, ketika menjadi seorang ibu, ia bisa menjadi ibu yang sehat yang siap untuk masuk ke tahapan selanjutnya.”
Menurut Dev, jika semua program yang dilaksanakan dapat diimplementasikan secara baik, maka mata rantai stunting dapat diputuskan.
“Kita melihat bahwa intervensi yang dilakukan untuk kelompok 1000 hari pertama kehidupan saja belum cukup, sehingga kita mengambil langkah untuk melaksanakan kegiatan intervensi pada adik-adik remaja yang ada di bangku pendidikan SMP,” ujarnya.
Dev menyampaikan, workshop ini adalah kegiatan pertama yang dilakukan dalam rangka menginformasikan bahwa program BISA dan Pemkab TTU akan melaksanakan kegiatan lanjutan di 56 sekolah tersebut.
“Pada kegiatan workshop ini kita mengundang kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah dan pada tahapan selanjutnya kita akan mengadakan pelatihan untuk para guru, yang saat ini kita sebut sebagai calon fasilitator dan setelah pelatihan itu selesai, mereka akan mengimplementasikan semua yang sudah didapat di sekolah masing-masing,” ungkapnya.
“Kami dari Save the Children, Nutrition International, Program BISA dan dinas-dinas terkait di antaranya Dinas Pendidikan, Bappeda dan Dinas Kesehatan akan terus memonitor kegiatan itu secara bersama sehingga semua bisa berjalan dengan baik, sebagaimana yang sudah dilakukan di 39 sekolah sebelumnya,” pungkas Dev.







