Melki menegaskan, selain produk-produk pertanian, peternakan juga tidak boleh dijual dalam bentuk mentah. NTT menurut Melki, harus punya banyak produk olahan yang bisa digunakan bersama.
“Satu desa satu industri pengolahan. Saya kira bisalah. Kalau besok lusa saya jadi gubernur, maka kita bisa eksekusi ini lebih baik,” tegasnya.
“Melki-Johni ingin agar Pemprov NTT bisa berkolaborasi dengan sekolah-sekolah unggulan. Kalau dengan SMK-PP, saya berpikir untuk urusan perkebunan, pertanian dan peternakan kita bisa bareng. Mulai dari urusan pembibitan sampai pada produksi. Soal pasar saya pikir gampang. Kami akan menyiapkan market place Pemprov NTT agar semua produk dari desa bisa dijual di situ,” tandasnya.
Kepala SMK-PP Kupang, Bogarth K. Watuwaya, menyampaikan, SMK-PP Kupang sejak berdiri sekolah ini mengalami sejumlah perubahan nomenklatur nama.
Ia menyebut, saat ini SMK-PP Kupang sudah menghasilkan 2000 lebih alumni yang 90 persen bekerja di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.
Terkait kunjungan calon Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Bogarth menegaskan, yang diperlukan saat ini adalah bagaimana mengubah karakter anak-anak NTT agar bisa sukses di 3 sektor tersebut di atas. Karena karakter anak-anak merupakan salah satu kendala mengapa pertanian susah berkembang di NTT.
“Persoalan karakter harus diperkuat, terutama jiwa kewirausahan anak-anak. Kemudian perlu ada peningkatan keterampilan siswa, dalam hal ini penguasaan alat-alat modern,” tegasnya.
Ia menambahkan, ke depan pihaknya siap berkolaborasi dengan Melki-Johni untuk pengembangan sektor pertanian, peternakan dan perkebunan yang lebih baik. (tim)







