“Ketika mereka sakit kita juga harus merasa sakit, jadi kita saling bantu. Sehingga aksi yang kita lakukan benar-benar untuk membantu saudara kita yang ada di Flores Timur dan Lembata,” tegas Suhardi.
Suhardi berharap agar konser itu bisa meraup banyak uang dari donatur agar bisa membantu banyak korban bencana.
Suhardi juga mengisahkan lahirnya FHO bentukan Kementerian Pariwisata tersebut. FHO terinspirasi dari seorang peneliti asal Belanda zaman dahulu kala.
“Hasil penelitian orang Belanda tersebut mengatakan Flores adalah “The Singing Island”. Menurut peneliti itu dari ujung barat hingga timur Flores, rata-rata masyarakatnya suka menyanyi,” jelasnya.
Atas dasar itu, FHO lahir ingin membuktikan bahwa narasi yang disampaikan peneliti tersebut benar-benar ada. Karena memang kenyataannya orang Flores suka menyanyi.
Atas dasar itu, pada tahun 2020 lalu pemerintah melalui Kemenparekraf menjadikan FHO sebagai komunitas binaan mereka dan menjadikan FHO bagian dari binaan kreatifnya.
Adapun musik yang dieksplorasi oleh FHO, jelas Suhardi, yaitu musik-musik tradisi dari budaya Manggarai. Setelah dirancang, akhirnya FHO menghasilkan tiga buah produk di bidang seni musik di antaranya sompo, secara keseluruhan berasal dari prosesi adat dalam ritus budaya Manggarai. Kedua Labuan Bajo Akapela, yaitu memainkan musik pake menggunakan suara manusia.
Terakhir, adalah band yaitu gabungan modern band yang dipadukan dengan musik tradisional. Komunitas FHO sendiri sudah tampil di media nasional Jakarta.







