<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ansel Atasoge &#8211; Kabar NTT</title>
	<atom:link href="https://kabarntt.id/tag/ansel-atasoge/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<description>Kompeten, Kritis, Kredibel</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Apr 2026 23:03:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://kabarntt.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-icon-situs-e1738830134956-32x32.png</url>
	<title>Ansel Atasoge &#8211; Kabar NTT</title>
	<link>https://kabarntt.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>May Day Tak Sekadar Tanggal Merah</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/may-day-tak-sekadar-tanggal-merah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 23:03:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[May Day]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=29316</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge Tanggal 1 Mei menjadi tanggal yang spesial. Orang kebanyakan menyebutnya&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/may-day-tak-sekadar-tanggal-merah/">May Day Tak Sekadar Tanggal Merah</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</strong></p>
<p>Tanggal 1 Mei menjadi tanggal yang spesial. Orang kebanyakan menyebutnya sebagai ‘tanggal merah’. Tentu dia beda dengan ‘nilai merah’ pada buku Rapor Pendidikan. Dunia internasional menyebutnya sebagai ‘<em>May Day</em>’.  Hari peringatan untuk merayakan perjuangan, kontribusi, dan pencapaian para pekerja serta kelas pekerja di seluruh dunia dalam memperjuangkan hak-hak ketenagakerjaan dan keadilan sosial. Ungkapan kerennya ‘International Workers&#8217; Day’ (Hari Buruh Internasional).</p>
<p>Sejarah mencatat bahwa peringatan ini berakar pada peristiwa ‘kerusuhan Haymarket’ di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. ‘Kerusuhan Haymarket’ di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. Ketika itu, para pekerja menggelar aksi demonstrasi menuntut hari kerja delapan jam dan tuntutan akan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Aksi berakhir dengan berdarah-darah.</p>
<p>Tragedi berdarah inilah yang menjadi inspirasi gerakan buruh internasional untuk menjadikan 1 Mei sebagai simbol perjuangan hak pekerja. Hak mereka sebagai pekerja. Substansi peringatannya adalah kenangan akan perjuangan historis gerakan buruh dalam meraih hak-hak dasar mereka. Di sisi lain, di momen ini disoroti pula isu ketenagakerjaan yang merupakan salah satu isu yang senantiasa relevan hingga kini seperti upah layak, jam kerja manusiawi, keselamatan kerja dan jaminan sosial.</p>
<p>Dua substansi lainnya pun tak kalah sengitnya. Pertama, mendorong solidaritas global antarpekerja lintas negara untuk terus memperjuangkan keadilan ekonomi dan sosial. Kedua, menghargai kontribusi pekerja terhadap pembangunan ekonomi dan kemajuan masyarakat. Jadi, aksi-aksi demonstrasi yang selalu dihadirkan oleh siapapun di tanggal 1 Mei sebenarnya mau mengarahkan siapapun juga kepada substansi memoria ini.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/may-day-tak-sekadar-tanggal-merah/">May Day Tak Sekadar Tanggal Merah</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sedikit Lebih Jauh tentang ‘Advocatus Diaboli’ [sisip gagas untuk mengenang Kornelis Kewa Ama]</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/sedikit-lebih-jauh-tentang-advocatus-diaboli-sisip-gagas-untuk-mengenang-kornelis-kewa-ama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 10:37:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[kornelis kewa ama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=29236</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge_ Di kabarntt.id, Kamis, 12 Maret 2026, ‘Om’ Tony Kleden menulis&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/sedikit-lebih-jauh-tentang-advocatus-diaboli-sisip-gagas-untuk-mengenang-kornelis-kewa-ama/">Sedikit Lebih Jauh tentang ‘Advocatus Diaboli’ [sisip gagas untuk mengenang Kornelis Kewa Ama]</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</strong>_</p>
<p>Di <em>kabarntt.id</em>, Kamis, 12 Maret 2026, ‘Om’ Tony Kleden menulis sebuah ‘kisah’ yang diberi judul ‘Mengenang Kornelis Kewa Ama: Wartawan Sebagai Advocatus Diaboli’. Sebuah kisah yang menarik hati saya untuk ‘bikin sisipan’ untuk tulisan ‘Om’ Tony.</p>
<p>Bagi saya, ketika Kornelis Kewa Ama, wartawan senior <em>Kompas</em> itu, dikenang sebagai <em>‘advocatus diaboli’</em>, kita diajak merenungkan lebih dalam tentang esensi peran jurnalis dalam ruang publik. Istilah yang secara harfiah bermakna <em>&#8220;pengacara iblis&#8221;</em> ini merupakan sebuah postur epistemologis dan etis yang menempatkan wartawan sebagai ‘pengkritik sistematis’ terhadap klaim kebenaran yang dominan.</p>
<p>Dalam perspektif filsafat, sikap ini memiliki akar yang kokoh pada tradisi skeptisisme Socrates dan etika deontologis Immanuel Kant. Menurut Immanuel Kant, sebuah tindakan dinilai benar jika didasarkan pada prinsip kewajiban moral yang universal, bukan karena mengejar hasil yang menguntungkan. Dalam dunia jurnalistik, prinsip ini berarti wartawan wajib memegang teguh verifikasi, akurasi, dan kejujuran meski menghadapi tekanan dari penguasa atau kepentingan ekonomi. Kornelis Kewa Ama membuktikan komitmen ini melalui karya-karyanya. Ia melaporkan fakta apa adanya, bukan menyesuaikan dengan keinginan pihak yang berkuasa.</p>
<p>Sikap kritis dan tajam inilah yang disebut sebagai ‘<em>advocatus diaboli</em>’, sebuah metode dialektis yang sengaja mengajukan keberatan untuk menguji kekuatan argumen lawan.</p>
<p>Dalam tradisi filsafat, Socrates menggunakan metode ‘<em>elenchus</em>’ (pengujian melalui tanya-jawab) untuk membongkar asumsi-asumsi yang tidak teruji. Jurnalis yang menempuh jalan ini tidak puas dengan narasi permukaan. Ia menggali, mempertanyakan, dan memverifikasi hingga menemukan lapisan kebenaran yang lebih substantif.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/sedikit-lebih-jauh-tentang-advocatus-diaboli-sisip-gagas-untuk-mengenang-kornelis-kewa-ama/">Sedikit Lebih Jauh tentang ‘Advocatus Diaboli’ [sisip gagas untuk mengenang Kornelis Kewa Ama]</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2025 23:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28923</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge Pada penghujung tahun, fenomena kilas balik atau kaleidoskop di satu sisi&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/">Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge</p>
<p>Pada penghujung tahun, fenomena kilas balik atau kaleidoskop di satu sisi dipandang sebagai ‘ritual naratif’ atau pengumpulan memori kolektif. Secara epistemologis, kilas balik berfungsi sebagai upaya subjek untuk memetakan diri dalam alur waktu, menarik kausalitas dari berbagai peristiwa guna menyusun proyeksi masa depan. Tulisan ini berupaya membingkai rangkaian proses politik Indonesia melalui tiga lensa ‘psikologi kognitif’ yakni kontaminasi kognitif, kompromi kognitif, dan disonansi kognitif, sebagai catatan kritis ambang tahun 2025.</p>
<p>Frasa ‘kontaminasi kognitif’ merujuk pada proses transmisi ide, bias, dan persepsi antarindividu melalui interaksi sosial, baik secara langsung maupun termediasi teknologi. Dalam panggung politik nasional, kontaminasi ini mewujud dalam narasi yang disebarkan oleh tokoh publik kepada konstituennya. Seringkali, pengaruh yang disebarkan bersifat toksik, penuh sinisme terhadap kebijakan publik yang objektif. Hal ini menciptakan polarisasi di mana kebenaran umum dianggap sebagai ancaman kelompok. Misalnya, fenomena ‘echo chambers’ di media sosial selama periode politik 2024-2025 menunjukkan bagaimana algoritma memperparah kontaminasi kognitif; penggunaan istilah-istilah peyoratif dalam debat publik sering kali mengaburkan substansi kebijakan, sehingga masyarakat lebih terjebak pada sentimen daripada argumen teknokratis.</p>
<p>Proses kontaminasi tersebut secara perlahan bermuara pada ‘kompromi kognitif’, sebuah titik simpul di mana individu menyesuaikan nilai-nilai idealnya dengan realitas politik yang pragmatis. Fenomena tebaran pesona yang bermuatan politis sering kali menguji integritas tokoh bangsa. Indonesia membutuhkan pemimpin dengan integritas yang membaja, bukan figur ‘berjiwa kardus’, istilah yang pernah dipopulerkan oleh aktivis Andi Arief untuk menggambarkan kerapuhan moral di hadapan kepentingan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kasus-kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat sering kali berakar dari kompromi kognitif terhadap tingginya biaya politik (mahar politik), yang pada akhirnya mengalahkan ideologi murni tentang keindonesiaan yang sejati.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/proklamasi-kakutani-manifestasi-kognitif-dan-diskursus-politik-jelang-2026/">Proklamasi Kakutani, Manifestasi Kognitif dan Diskursus Politik Jelang 2026</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NTT dalam Cermin Filsafat</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/ntt-dalam-cermin-filsafat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 09:42:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi NTT]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28913</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge AKHIR tahun senantiasa menghadirkan ‘ruang kontemplasi’. Sebuah jeda di antara riuh&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/ntt-dalam-cermin-filsafat/">NTT dalam Cermin Filsafat</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Anselmus DW Atasoge</p>
<p>AKHIR tahun senantiasa menghadirkan ‘ruang kontemplasi’. Sebuah jeda di antara riuh politik, ekonomi, dan sosial yang menandai denyut perjalanan daerah. NTT, dengan segala kompleksitas historis dan kulturalnya, di satu sisi dipandang sebagai ‘entitas geografis’, dan di sisi lain merupakan sebuah ‘narasi eksistensial’ yang menuntut refleksi dari pelbagai perspektif, termasuk dari sudut pandang filsafat. Filsafat, sebagai seni berpikir mendalam, mengajak kita menembus lapisan permukaan berita harian dan menyingkap akar makna dari perjalanan daerah, sehingga kita tidak hanya melihat “apa yang terjadi”, melainkan bisa memahami “apa arti dari yang terjadi”.</p>
<p>Hegel menegaskan bahwa sejarah senantiasa bergerak melalui dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. NTT sepanjang 2025 tampak berada dalam pusaran dialektika itu. Tesisnya adalah cita-cita pembangunan yang menekankan persatuan dan keadilan sosial. Antitesisnya tampak dalam realitas ketimpangan, konflik identitas, serta krisis ekologis yang menggerus idealisme. Sementara sintesisnya hadir dalam upaya masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas lokal untuk merajut kembali solidaritas dan keberlanjutan.</p>
<p>Perspektif ini menegaskan bahwa masyarakat NTT tidak berhenti pada titian “ada” (being), melainkan “menjadi” (becoming). Proses “menjadi” itu adalah gerak yang terus berlangsung, penuh dinamika, dan menuntut kesadaran historis. NTT, dalam cermin filsafat, memperlihatkan wajah daerah yang sedang berjuang menyeimbangkan idealisme dengan realitas, serta merumuskan kembali arah perjalanan menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.<br />
Krisis lingkungan yang semakin nyata menuntut kita kembali pada etika tanggung jawab. Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah “yang lain” selalu menuntut kepedulian. Dalam konteks NTT, wajah itu misalnya hutan yang terbakar, laut yang tercemar, dan masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup. Catatan akhir tahun mengajak kita menyadari bahwa pembangunan tanpa etika ekologis hanyalah kemajuan semu, sebuah ilusi yang menyingkirkan tanggung jawab moral terhadap bumi dan generasi mendatang.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/ntt-dalam-cermin-filsafat/">NTT dalam Cermin Filsafat</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>HUT NTT ke-67: Menenun Eksistensi di Antara Karang dan Samudra</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/hut-ntt-ke-67-menenun-eksistensi-di-antara-karang-dan-samudra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 12:03:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[HUT NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi NTT]]></category>
		<category><![CDATA[stipar ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=28908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Anselmus DW Atasoge_ Tanggal 20 Desember 2025, Provinsi Nusa Tenggara Timur genap berusia&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hut-ntt-ke-67-menenun-eksistensi-di-antara-karang-dan-samudra/">HUT NTT ke-67: Menenun Eksistensi di Antara Karang dan Samudra</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Anselmus DW Atasoge</strong>_</p>
<p>Tanggal 20 Desember 2025, Provinsi Nusa Tenggara Timur genap berusia 67 tahun. Sejatinya, Hari Ulang Tahun NTT merupakan sebuah ritus sosial sakral yang meneguhkan kembali identitas kolektif masyarakatnya. Dari sudut pandang sosiologi, perayaan ini menjadi momentum untuk mengikat ulang simpul kebersamaan, merayakan pluralitas etnis dan bahasa yang hidup di dalamnya. Keragaman itu dapat dipandang sebagai modal sosial yang memperkuat kohesivitas NTT, menjadikannya bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang perjumpaan yang terus menumbuhkan solidaritas.</p>
<p>Sementara itu, dari tilikan filosofis, hari jadi daerah ini adalah representasi perjalanan eksistensial sebuah komunitas yang senantiasa berjuang menafsirkan dirinya di tengah deburan arus sejarah. Refleksi sosio-filosofis ini hendak menegaskan bahwa NTT tidak semata-mata sebuah titik koordinat di peta, melainkan narasi hidup yang terus-menerus mendefinisikan martabatnya di hadapan tantangan zaman. Dengan demikian, ulang tahun NTT adalah panggilan untuk merayakan identitas sekaligus menata harapan, agar cahaya dari timur ini senantiasa memberi inspirasi bagi bangsa.</p>
<p>Ketahanan masyarakat NTT yang kerap dilabeli dengan narasi “daerah tertinggal” sesungguhnya menyimpan daya juang yang luar biasa dan otentik. Resiliensi sosial ini berakar pada tradisi gotong royong yang murni, solidaritas desa yang kental, hingga keberanian para perantau yang membawa nama tanah airnya ke penjuru dunia. Di balik karang yang keras dan sabana yang luas, tersimpan kisah perjuangan yang menegaskan bahwa masyarakat NTT tidak semata-mata bertahan, melainkan terus menumbuhkan harapan. Ketahanan ini adalah modal sosial yang memperlihatkan wajah lain dari NTT: sebuah komunitas yang mampu menjadikan keterbatasan sebagai energi untuk melangkah.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/hut-ntt-ke-67-menenun-eksistensi-di-antara-karang-dan-samudra/">HUT NTT ke-67: Menenun Eksistensi di Antara Karang dan Samudra</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2025 02:44:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Dore Woho Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Komunikasi Sedunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=27487</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Secangkir nescafe di Hari Komunikasi Sedunia perspektif dialog antaragama) Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge Dalam&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/">Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>(Secangkir nescafe di Hari Komunikasi Sedunia perspektif dialog antaragama)</p>
<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</p>
<p>Dalam dunia yang semakin terhubung, komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi juga jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam. Hari Komunikasi Sedunia, yang dirayakan oleh Gereja Katolik setiap tahun, dapat dijadikan sebagai momen refleksi tentang bagaimana komunikasi dapat menjadi alat pemersatu, terutama dalam dialog antar agama. Dalam terang ajaran Gereja, komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membangun relasi yang berlandaskan kasih persaudaraan dan penghormatan satu terhadap yang lain yang berbeda.</p>
<p>Paus Fransiskus, dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-59 yang dirayakan pada Minggu, 1 Juni 2025 dengan tema &#8220;Bagikanlah dengan Lemah Lembut Harapan yang Ada di Hatimu&#8221; (1 Ptr 3:15-16), menekankan bahwa komunikasi yang sejati haruslah membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia mengajak umat Katolik untuk menjadi &#8220;Komunikator Pengharapan&#8221;, yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun jembatan persaudaraan. Dalam konteks dialog antar agama, komunikasi yang penuh harapan ini menjadi kunci dalam meruntuhkan prasangka dan membangun kepercayaan.</p>
<p>Pesan ini disiapkan oleh Paus Fransiskus sebelum wafatnya pada 21 April 2025, dan menjadi warisan terakhirnya bagi umat Katolik, terutama mereka yang bergerak di bidang komunikasi sosial. Dengan pesannya ini, Paus mengajak umat untuk menjadi &#8220;Komunikator Harapan&#8221;. Bahwasanya, komunikasi yang sejati harus membawa harapan dan dilakukan dengan kelembutan. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang tidak memberikan harapan dapat menyebabkan ketakutan, keputusasaan, prasangka, dan kebencian-kebencian yang dapat berkelindan kapan dan di mana saja.</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/komunikasi-sebagai-jembatan-dialog-antar-agama/">Komunikasi sebagai Jembatan Dialog Antar Agama</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ura Timu: Planet Hijau, Ekologi Integral dan Idealisme Ekosofi</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/ura-timu-planet-hijau-ekologi-integral-dan-idealisme-ekosofi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 02:28:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Lingkungan HIdup]]></category>
		<category><![CDATA[YPPS Waibalun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=21567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) yang berkantor di Waibalun,&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/ura-timu-planet-hijau-ekologi-integral-dan-idealisme-ekosofi/">Ura Timu: Planet Hijau, Ekologi Integral dan Idealisme Ekosofi</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge</strong></p>
<p>Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) yang berkantor di Waibalun, Flores Timur NTT didukung Oxfam di Indonesia telah melaksanakan Program “Komunitas Tangguh terhadap Iklim dan Bencana di Indonesia” atau ICDRC (Indonesia Climate and Disaster Resilient Communities). Program yang bertajuk ‘Sekolah Adaptasi Kekeringan’ yang dilaksanakan di Kabupaten Flores Timur dan Lembata sejak tahun 2018 ini akan berakhir Juni 2023. Seluruh proses pembelajaran bersama ini didokumentasikan dalam sebuah karya berjudul ‘Ura Timu’. Tulisan sederhana ini merupakan sebuah catatan atas karya ini.</p>
<p><strong>Ura Timu dan Pergumulan Rangkap Tiga</strong></p>
<p>Iklim yang tak menentu yang dibarengi dengan invasi manusia yang tak terkendali atas alam atas nama pembangunan membuat ‘planet hijau’ bumi ini menjadi tak bergetah. Kehijauan sebagai simbol spontanitas kehidupan tergerus bahkan menghilang tatkala dominasi manusia atas alam dibumbui bahkan dibingkai oleh ideologi antropomorfisme modern yang mendudukan manusia sebagai ‘penguasa tertinggi’ atas alam lingkungan. Planet hijau ‘menguning’ dan derita demi derita membajiri kanal-kanal kehidupan manusia.</p>
<p>Iklim yang berubah dalam pola dan intensitasnya dalam kurun waktu yang lama disertai pelbagai bencana klimatologi seakan membuat bumi terasa ‘tak nyaman-tak berjiwa’ untuk ditinggali. Pengetahuan modern dan kesaksian-kesaksian masyarakat desa tempatan YPPS dalam karya ‘ura timu’ mengafirmasi pengetahuan modern dan tradisional tentang perubahan iklim tersebut. Bahwasanya, bentuk perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan kebiasaan cuaca atau perubahan persebaran kejadian cuaca dengan penyebab utamanya pemanasan global.</p>
<p>Bagi saya, ‘ura timu’ merupakan sebuah karya hasil pergumulan epistemologi rangkap tiga. Pertama, perjumpaan pembelajaran tentang pengetahuan berbasis ilmu dan teknologi modern tentang iklim dan perubahan iklim makro (mendunia) dengan pengetahuan tradisional tentang iklim mikro (tempatan) terutama yang berkaitan langsung dengan daur usaha tani perladangan lahan kering, cara-cara pengolahan lahan dan tanda-tanda alam pergantian musim. Dapat dikatakan perjumpaan ini sebagai penciptaan pengetahuan tingkat pertama. Kedua, perjumpaan pertama melahirkan pengetahuan tingkat kedua yang mengandung substansi tentang perbedaan dan persamaan sistem pengetahuan modern dan tradisional tentang iklim dan perubahan iklim. Ketiga, kedua perjumpaan itu melahirkan pilihan berbagai kemungkinan tindakan mitigasi (pencegahan) risiko bencana iklim serta tindakan penyesuaian (adaptasi) dalam pola dan cara-cara budidaya perlandangan menghadapi perubahan iklim terutama berbagai kemungkinan kendala dan beban kerja dalam penerapannya, cara-cara menjaga keberlangsungan daya dukung layanan alam tempatan serta kalender musim dan kerja perladangan yang lebih sesuai.</p>
<p><strong>Kebaruan Inisiasi yang Pengaruh Besar</strong></p>
<p>Apa yang diinisiasi YPPS bukan sesuatu yang baru, kata Roem Topatimasang dalam kata pengantar karya ini. Namun, di atas ‘sesuatu yang lama’ itu YPPS menghadirkan ‘sesuatu yang baru’. Novelty (kebaruan) tersebut nampak dalam ‘menghadirkan yang lama’ dengan perspektif yang lebih modern yakni persepektif tentang ‘yang adaptif’ dalam pola berladang-bertani ketika para petani di wilayah tempatan ‘berdamai’ dengan persolan perubahan iklim. Sebuah sisi epistemologi (pengetahuan) integratif dihadirkan.</p>
<p>Bagi saya, inisiasi dan kerja-kerja lapangan YPPS ini merupakan sebuah ‘kerja yang memiliki pengaruh yang besar: membangun kesadaran masyarakat tentang relasi tridimensi (manusia dengan lingkungan, relasi manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan wujud tertinggi) berbasis epistemologi modern dan tradisional. Muara akhirnya tidak terbatas pada kesejahteraan manusia dalam skala mikro (rumah tangga, suku, kampung-desa) dan pola berladang-bertani (Bdk. Testimoni para petani ladang) melainkan lebih dari itu mengembalikan posisi ‘planet hijau yang bergetah’ dalam skala global.</p>
<p><strong>Ura Timu, Ekologi Integral dan Ekosofi</strong></p>
<p>Secara tak kasat mata ‘ura timu’ sedang mendokumentasikan pengetahuan tentang sebuah dimensi etis dan spiritual tentang bagaimana manusia seharusnya berhubungan satu sama lain dan dengan alam dengan mengacu pada budaya lokal, keluarga, komunitas masyarakat (kampung-desa), kebajikan (universal dan partikular), agama (Bdk. Ritus lokal dan respon Gereja), dan rasa hormat terhadap kebaikan bersama. Paus Fransiskus menyebut gagasan ini dengan istilah ekologi integral dalam Ensiklik Laudato Si’  (Ensiklik: surat publik dari Paus yang mengembangkan ajaran Katolik tentang suatu topik yang sering kali berkaitan dengan peristiwa-peristiwa terkini. Laudato Si’ (“Puji Bagi-Mu”)_On the care for our common home/dalam kepedulian untuk rumah kita bersama).</p>
<p>Ekologi integral dapat dipandang sebagai gagasan utama Laudato Si’, sebuah perspektif yang kompleks tentang alam tempat manusia hidup. Fokusnya pada hubungan khusus dan mendalam antara tindakan manusia terhadap alam, manusia lain dan kesejahteraan spiritual manusia. Hubungan manusia dengan bumi diletakkan sebagai aspek kunci dari pesan sosial dan ekonomi yang telah digagaskan para paus sebelum Paus Fransiskus. Dengan ekologi integral, Paus Fransiskus hendak menekankan dan membangun kesasaran bersama tentang keterkaitan relasional antara semua makluk hidup. Bahwasanya, perubahan iklim, invasi manusia atas alam dan dampak yang menyertainya merupakan tanggung jawab bersama semua manusia dalam jaringan sosial dengan pelbagai perspektif. Ensiklik ini memetakan sebuah jalan untuk mendapatkan kembali kesadaran akan keterkaitan ciptaan. Bahwasanya alam dan manusia tidak otonom dalam dirinya sendiri melainkan terbingkai dalam sebuah jalinan yang tak pernah bisa diputuskan.</p>
<p>Semuanya terintegrasi dalam alam semesta. Karena keterkaitan itulah degradasi alam semesta serentak merupakan degradasi atas kemanusiaan seutuhnya, manusia yang berekonomi, manusia yang bersosial, manusia yang berbudaya. Dan, manusia yang paling rentan terhadap degradasi alam adalah manusia tengah berada pada posisi kemiskinan yang memenderitakan keadaannya. Karena itu, upaya mengembalikan planet hijau yang bergetah serentak pula mengembalikan kemuliaan manusia terutama mereka yang sedang menderita di posisi kemiskinan.</p>
<p>Tak berlebihan jika saya mengatkan bahwa inisiasi YPPS dan kerja tangan-lapangannya mengandung intensi ekologi integratif ini. Mereka membangun kesadaran masyarakat tentang keterjalinan manusia dan alam, tentang keselamatan alam dan manusia, tentang masa depan alam dan manusia. Sederhananya, mereka hendak bermisi “on the care for our common home (dalam kepedulian untuk rumah kita bersama”).</p>
<p>Saya ingin memperkaya gagasan yang tercurah dalam ‘ura timu’ dengan gagasan ekosofi. Proses belajar bersama dan kerja bersama YPPS bersama para mitra dan warga di delapan desa (Posiwatu, Lerahinga, Waeinga, Helan Langowuyo, Nelelamawangi, Bedalewun, Kimakamak dan Gekeng Deran) dalam bingkai ‘pertanian adapatif kekeringan’ pada titik tertentu merupakan sebuah upaya untuk merevisi kembali hubungan manusia dengan alam dan memodifikasi konstruksi manusia tentang alam. Revisi dan modifikasi inilah yang dikedepankan oleh ekosofi.</p>
<p>Revisi dan modifikasi itu menyata dalam dua hal. Pertama, memahami secara mendalam tentang fisika bentang alam, biologi kehidupan dan senyawa kimiawi yang dikandung makluk hidup serta pranata sosial (seperti desa dan Gereja) dan nilai-nilai yang terkadung di dalamnya (seperti gemohing) berkat ‘belajar bersama’ di Pondok Liberty dan di ruang-ruang sosial lainnya. Kedua, pola pertanian yang tidak mengandalkan pupuk kimia, teknologi mekanisasi atau moda produksi industri pertanian modern lainnya yang hemat saya dapat menyumbang bagi peningkatan pemanasan global sebagai faktor penyebab perubahan iklim. Persis di titik inilah gagasan ekosofi itu terbaca dengan gamblang. Idealisme ekosofi dan praksis baru yang berdimensi adaptif yang diperankan oleh para petani ladang seperti yang dikisahkan oleh Bapak Mikael Kere Lio dan Mama Martha Bulu Demon bersama kawan-kawan dari YPPS dan para mitranya hendak mengajarkan tentang bagaimana manusia bijak berpandangan tentang alam, bijak mengolah alam, bijak memijaki bumi demi keselamatan bumi dan keselamatan manusia.</p>
<p>Dalam perspektif Paus Fransiskus, kebijaksanaan itu menyata dalam tulisannya pada Laudato Si’: “Rasa persekutuan dengan alam tidak dapat terwujud jika hati manusia tidak memiliki kelembutan, belas kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia. Kepedulian terhadap lingkungan hidup harus disertai dengan cinta yang tulus kepada sesama manusia dan komitmen yang teguh untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat” (LS, art. 91).</p>
<p>Proficiat atas hadirnya ‘ura timu’-Etnografi Iklim Mikro Flores. Saya berharap karya ini boleh dibaca dengan penuh kegembiraan hati. Namun, lebih dari itu semoga the best practice dan success story yang dikisahkan di dalamnya boleh menjadi milik bersama semua orang yang berkehendak baik untuk adapatif terhadap iklim yang tak menentu, yang menginginkan agar planet bumi ini tetap hijau dan bergetah.*</p>
<ul>
<li><strong><em>Penulis, Staf Pengajar pada STIPAR Ende</em></strong></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/ura-timu-planet-hijau-ekologi-integral-dan-idealisme-ekosofi/">Ura Timu: Planet Hijau, Ekologi Integral dan Idealisme Ekosofi</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Semana Santa Yang Transformatif</title>
		<link>https://kabarntt.id/opini/semana-santa-yang-transformatif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KabarNTT.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Apr 2023 15:08:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ansel Atasoge]]></category>
		<category><![CDATA[Semana Santa]]></category>
		<category><![CDATA[Semana Santa Laramtuka]]></category>
		<category><![CDATA[Semana Santa Larantuka]]></category>
		<category><![CDATA[Semana Santa Larantuka 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarntt.id/?p=21004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Anselmus D. Atasoge Merayakan Semana Santa di Kota Tua Larantuka bukan sebuah aksi gagah-gagahan&#160;[&#8230;]</p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/semana-santa-yang-transformatif/">Semana Santa Yang Transformatif</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>Oleh </b></strong><strong><b>Anselmus D. Atasoge</b></strong></p>
<p>Merayakan Semana Santa di Kota Tua Larantuka bukan sebuah aksi gagah-gagahan rohaniah. Bukan pula sekadar mengulang serimonial tahunan khas Larantuka. Sejatinya, Semana Santa harus selalu dihubungkan dengan akarnya: Kisah Sengsara Yesus Kristus.</p>
<p>Di dalamnya, orang-orang Larantuka dan para peziarah yang datang ke Larantuka mengambil bagian di dalam  perayaan suci ini. Dan, sesungguhnya ‘mengambil bagian di dalamnya’ mengandung makna mengambil bagian dalam Kisah Sengsara Yesus Kristus itu. Dengannya, mereka menimba kekuatan untuk membaharui diri dan kehidupannya setelah menyatukan dan menceburkan diri dengan sekian banyak tokoh yang hadir dalam seluruh Kisah Sengsara Yesus itu: Pilatus, Herodes, Kayafas, Prajurit-Prajurit, Murid-Murid Yesus, Simon dari Kirene, Veronika, Maria Ibu Yesus, Perempuan-Perempuan yang Meratapi Yesus, Yudas Iskariot dan Yesus.</p>
<p>Bisa jadi wajah orang-orang Larantuka dan para peziarah kini dan di sini adalah gambaran asli wajah dari tokoh-tokoh itu. Bisa jadi pula gabungan di antara tokoh-tokoh itu. Tak seorang pun bisa menepis kalau wajah Pilatus yang dengan gampang “cuci tangan” atas soal besar yang dihadapi masih bercokol di Tanah Nagi Larantuka Flores ataupun di mana saja di penjuru Indonesia ini. Siapa tahu juga kalau Herodes yang “haus darah” itu masih “dihidupi”. Siapa tahu juga kalau orang-orang seperti para prajurit yang “hanya tahu menjalankan perintah” tanpa tahu alasan mengapa perintah itu harus dijalankan masih menyelinap di tubuh birokrasi, di institusi-institusi agama dan kelompok-kelompok sosial masyarakat. Dan, siapa bilang kalau orang macam Kayafas yang suka “berkolusi” itu sudah hilang “peredarannya” di bumi ini. Siapa sangka juga kalau wajah Simon dari Kirena kini menampak dalam sejuta manusia yang selalu dibully di media-media sosial karena kebaikan hatinya. Siapa bilang tidak mungkin ada lagi wajah kaum wanita yang menyata dalam diri Sang Bunda Yesus dan para wanita saat ini dan kini yang sedang bersusah hati, berdukacita lantaran dililiti seribu satu macam persoalan, semisalnya habisnya beras di tempat simpannya di rumah, mahalnya harga barang di pasar dan lain sebagainya.</p>
<p>Para murid Yesus, orang-orang yang paling dekat dengan Sang Guru pun punya kisah tersendiri: ada yang menyangkal dan hampir semua melarikan diri! Ya&#8230;Petrus Sang Ketua menyangkal Sang Guru. Dan, yang lain lari meninggalkan Sang Guru ketika situasi sulit menghampirinya hingga Simon dari Kirene, orang asing itu, harus menemani Sang Guru di Jalan SalibNya.</p>
<p>Massa Anonim, apalagi! Di Gerbang Kota Yerusalem dengan ranting-ranting zaitun mereka mengelu-elukan Yesus. Dan, di halaman Pilatus mereka serentak berseru: “Salibkan Dia&#8230;.Salibkan Dia!” Antara sujud syukur sambut senang dan sangkal tolak batasnya amat tipis. Lain muka lain belakang. Lain kata lain aksi. Tak ada persesuaian antara keduanya. Mungkinkah iman yang sudah lama nian diterima dan kuat berakar di hati orang-orang Larantuka dan para peziarah mudah dipengaruhi oleh bujuk rayu aksidental atas nama pemenuhan kebutuhan perut dan perhitungan ekonomis-politis?</p>
<p>Masih banyak tokoh dalam Jalan Salib Sang Guru yang bisa kita identifikasikan. Yang tak kalah pentingnya dalam hal tokoh yang “menarik perhatian” adalah Yudas Iskariot itu. Tiga puluh keping perak itu bukan “maksud hati” Sang Pengkhianat itu. Sedari awal dia tahu kalau Yesus itu “tokoh sakti”. Namun, sejauh pengalamannya, aura kesaktian Sang Guru belum tampak terang. Maka, Yudas “bikin” skenario Getsemani biar Sang Guru “harus” tampilkan “kesaktiannya”: kemahakuasaanNya. Orang-orang yang hendak menangkapNya memang sempat “terjatuh” di hadapanNya. Jantung Yudas bergedup. Dia kira inilah saatnya kesaktian Sang Guru menyembul di balik kepekatan Getsemani. Tapi, skenarionya gagal. Sang Guru “membiarkan diriNya” ditangkap. Jantung Yudas bagai terjebak “sisa-sisa kabel di gorong-gorong”. Dan, ia pun mengakhiri kehidupannya: bunuh diri! Bisa jadi, Yudas itu gambaran orang-orang yang berniat memaksa Tuhan untuk mengikuti skenario kemanusiaan orang-orang itu. “Jangan paksa Tuhan untuk ikut skenario kita,” kata Pater Leo Kleden, SVD. Karenanya, kata-kata sakti Sang Guru jadi junjungan orang-orang yang merayakan Semana Santa: Bukan kehendakKu yang terjadi melainkan kehendakMulah yang terjadi!</p>
<p>Jika orang-orang Larantuka dan para peziarah sungguh-sungguh merayakan Semana Santa di Larantuka maka mestinya mereka pun sungguh-sungguh mengidentifikasikan diri mereka dalam sekian banyak tokoh tadi. Dan, tentunya mereka tidak hanya memanjakan diri dengan aksi identifikasi itu. Identifikasi harus bermuara pada katarsis: pembersihan rohani.</p>
<p>Karenanya, merayakan Semana Santa di Larantuka itu lebih dari sekedar “hijrah” ke Larantuka sebagai “pelancong” untuk menikmati “hidangan masa silam dari tangan para misionaris” atau “mengenang sejarah Kerajaan Larantuka dan aksi kaum beriman perdana di Larantuka” di sebuah masa tanpa misionaris. Semana Santa itu berarti mengambil bagian dalam kisah sengsara Yesus dan menarik nilai serta menuangkannya dalam praksis hidup harian orang-orang yang merayakannya di hadapan diri sendiri dan di hadapan orang-orang yang “tidak merayakannya”. Sejatinya, ia adalah sebuah titik start menuju perubahan. Misalnya, dari yang selama ini jauh dari arena menggereja, akhirnya mulai ‘merapat’ dan menjadi bagian utuh dari seluruh kehidupan menggereja! Jika selama ini yang rohaniah spiritual menjadi urusan ke dalam diri, maka setelah perayaan ini ia tidak tinggal diam dalam ‘kesendiriannya’ melainkan menjadi bekal spiritual dalam bersaksi hidup di tengah dunia yang dicoraki pluralisme agama, budaya dan etnis.</p>
<p>Selamat ber-semana santa dengan intensi yang transformatif!</p>
<p><strong><em><b><i>* Penulis, a</i></b></em></strong><strong><em><b><i>lumn</i></b></em></strong><strong><em><b><i>us</i></b></em></strong><strong><em><b><i> Program S3 Studi Antar Iman</i></b></em></strong></p>
<p><strong><em><b><i>Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta</i></b></em></strong></p>
<p>&lt;p&gt;The post <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id/opini/semana-santa-yang-transformatif/">Semana Santa Yang Transformatif</a> first appeared on <a rel="nofollow" href="https://kabarntt.id">Kabar NTT</a>.&lt;/p&gt;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
