Oleh Anselmus DW Atasoge
AKHIR tahun senantiasa menghadirkan ‘ruang kontemplasi’. Sebuah jeda di antara riuh politik, ekonomi, dan sosial yang menandai denyut perjalanan daerah. NTT, dengan segala kompleksitas historis dan kulturalnya, di satu sisi dipandang sebagai ‘entitas geografis’, dan di sisi lain merupakan sebuah ‘narasi eksistensial’ yang menuntut refleksi dari pelbagai perspektif, termasuk dari sudut pandang filsafat. Filsafat, sebagai seni berpikir mendalam, mengajak kita menembus lapisan permukaan berita harian dan menyingkap akar makna dari perjalanan daerah, sehingga kita tidak hanya melihat “apa yang terjadi”, melainkan bisa memahami “apa arti dari yang terjadi”.
Hegel menegaskan bahwa sejarah senantiasa bergerak melalui dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. NTT sepanjang 2025 tampak berada dalam pusaran dialektika itu. Tesisnya adalah cita-cita pembangunan yang menekankan persatuan dan keadilan sosial. Antitesisnya tampak dalam realitas ketimpangan, konflik identitas, serta krisis ekologis yang menggerus idealisme. Sementara sintesisnya hadir dalam upaya masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas lokal untuk merajut kembali solidaritas dan keberlanjutan.
Perspektif ini menegaskan bahwa masyarakat NTT tidak berhenti pada titian “ada” (being), melainkan “menjadi” (becoming). Proses “menjadi” itu adalah gerak yang terus berlangsung, penuh dinamika, dan menuntut kesadaran historis. NTT, dalam cermin filsafat, memperlihatkan wajah daerah yang sedang berjuang menyeimbangkan idealisme dengan realitas, serta merumuskan kembali arah perjalanan menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Krisis lingkungan yang semakin nyata menuntut kita kembali pada etika tanggung jawab. Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah “yang lain” selalu menuntut kepedulian. Dalam konteks NTT, wajah itu misalnya hutan yang terbakar, laut yang tercemar, dan masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup. Catatan akhir tahun mengajak kita menyadari bahwa pembangunan tanpa etika ekologis hanyalah kemajuan semu, sebuah ilusi yang menyingkirkan tanggung jawab moral terhadap bumi dan generasi mendatang.







