NTT dalam Cermin Filsafat

ansel atasoge

NTT adalah juga sebuah ‘mosaik budaya’ yang indah sekaligus ‘rapuh’. Namun kepluralitasan ini sering kali terjebak dalam politik identitas yang memecah belah. Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional dan dialogis. Akhir tahun ini, kita diajak untuk menilai: apakah ruang publik kita masih sehat? Apakah media sosial menjadi arena deliberasi, atau sekadar gema polarisasi? Bahwasanya, demokrasi hanya hidup bila dialog dijaga dengan kejujuran, keterbukaan, dan penghormatan terhadap “yang lain”.

Pemikiran Aristoteles pun perlu kita angkat untuk membingkai konteks ini. Aristoteles menekankan eudaimonia — kebahagiaan yang lahir dari hidup yang baik dan adil. Jika demikian maka realitas akhir tahun menyingkap jurang antara ideal keadilan sosial dengan kenyataan: kemiskinan, ketimpangan pendidikan, dan akses kesehatan. Pertanyaan filosofis yang muncul: apakah kebijakan daerah sungguh diarahkan pada telos kesejahteraan bersama, atau sekadar pada pertumbuhan ekonomi yang dingin dan tanpa jiwa? Jika tidak atau belum maka perlu ditimbang kembali arah kebijakan publik dalam terang etika keadilan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Catatan ini tidak bertendensi untuk melahirkan nostalgia atau kritik. Ini adalah sebuah ‘panggilan generatif’: bagaimana kita, sebagai masyarakat NTT, bertanggung jawab pada generasi mendatang. Filsafat mengajarkan bahwa harapan bukanlah ilusi, melainkan tindakan sadar untuk menata masa depan. NTT, dengan segala luka dan potensinya, membutuhkan ‘keberanian moral’ untuk menjadikan tahun baru sebagai momentum transformasi menuju kehidupan yang lebih adil, ekologis, dan dialogis.

Pos terkait