LABUAN BAJO kabarntt.id— Pius Daru resmi menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) periode 2020-2025, usai dilantik Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hanura Provinsi NTT, Refafi Gah.
Pelantikan tersebut berlangsung di Aula SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Rabu (20/10/2021) siang.
Dalam sambutannya, Ketua DPD Hanura Provinsi NTT, Refafi Gah berpesan agar pengurus Hanura Mabar menjaga kekompakan dalam menjalankan roda organisasi partai.
“Dengan terpilihnya Saudara Pius Daru sebagai ketua partai di tingkatan daerah, jangan lupa menjaga kekompakan dan selalu rendah hati, juga harus menjaga komunikasi dengan semua kader dengan baik,” kata Refafi.
Untuk menjadi pemimpin, kata Rafafi, harus memiliki rasa percaya diri mampu bersaing dengan partai besar lainnya, juga harus membangun komunikasi politik dengan partai lain dan pemerintah daerah.
Refafi meyakini Pius Daru adalah kader terbaik yang dimiliki Manggarai Barat untuk menjalankan roda kepartaian.
Oleh karena itu, Pius Daru harus bisa menghidupkan dan memajukan Partai Hanura di Manggarai Barat. Betapa pun diterpa berbagai cobaan dan rintangan, jangan pernah menyerah ada keadaan. Harus bisa survive pada setiap kondisi yang terjadi.
“Karena itu kekompakan sangat dibutuhkan. Kepada pengurus yang baru dilantik, harus memiliki rasa tanggung jawab dan komitmen untuk membesarkan partai,” tukasnya lanjut.
Refafi juga meminta agar seluruh kader partai bahu membahu untuk bekerja agar dapat mengikuti setiap hajatan politik di Indonesia.
“Harus bisa menjaga soliditas di antara pengurus, jangan ada gesekan. Partai kita tidak punya keterwakilan di Senayan, harus bisa berjuang 2024 agar kita berjaya di Senayan. Kita harus berpikir positif kepada teman-teman, jangan berpikir buruk,” katanya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Pius Daru berkomitmen untuk membesarkan Partai Hanura di Kabupaten Mabar.
Menurutnya, pada tahun 2017 saat semua partai diverifikasi oleh KPU, Partai Hanura didapuk sebagai partai dengan jumlah pengurus terbanyak di seluruh wilayah di Indonesia.
“Jumlah pengurus dan simpatisan yang banyak, semestinya mampu memberikan kemenangan bagi Partai Hanura. Akan tetapi, hasil yang diperoleh tidak berbanding lurus dengan jumlah pengurus dan simpatisan saat itu. Hanura tidak mencapai ambang batas parliamentary threshold yakni 4 persen,” ujarnya.
Sejak saat itu hingga hari ini, kata Pius Daru, Hanura melewati aktivitas politik dalam kondisi yang tidak sepenuhnya meyakinkan.
Harus diakui, kata Pius, tidak tercapainya ambang parliamentary threshold untuk Hanura cukup banyak memengaruhi pergerakan dan kualitas perjuangan di tingkat bawah.
“Ada semacam keraguan yang muncul tentang kemampuan Partai Hanura untuk bersaing di tahun mendatang,” jelas Pius Daru yang telah 2 periode didapuk sebagai Ketua DPC Hanura Mabar itu.
Pengalaman itu, aku Pius, memberikan catatan tersendiri bahwa keberadaan kader merupakan kekuatan awal untuk bergerak menuju kemenangan.
Karena itu Pisu mengajak seluruh kader partai untuk bekerja keras, menjaga soliditas dan integritas untuk mendapatkan hasil maksimal dalam setiap ajang politik.
“Kehadiran kita hari ini merupakan gambaran tentang tekad kita untuk bersatu membangun peradaban bangsa menuju masyarakat yang berkeadilan melalui Partai Hanura. Partai Hanura memanggil kita untuk tidak diam di tengah bobroknya moralitas para pemegang kekuasaan negeri dan daerah ini. Hari ini Hanura memanggil kita untuk berpolitik dengan hati sembari mengedepankan prinsip kemanusiaan yang beradab,” tegasnya. (obe)







