KABARNTT.ID-— Isu eksploitasi energi baru terbarukan menjadi sorotan perwakilan dari Keuskupan Agung Ende pada Pertemuan Pastoral (Perpas) XII Regio Nusra yang berlangsung di Larantuka. Pada sesi shering di Gedung Multievent Hall OMK Sta. Caecilia Keuskupan Larantuka, Rabu (2/7/2025), isu eksploitasi energi terbarukan menjadi sorotan perwakilan Keuskupan Agung Ende.
Perwakilan dari Keuskupan Agung Ende, RD. Evan Lando memaparkan keterkaitan erat antara proyek energi panas bumi dan peningkatan migrasi, terutama di kawasan dengan ketergantungan tinggi terhadap sumber daya lahan dan air.
Evan Lando mengatakan, ketidakhati-hatian dalam menentukan arah pembangunan energi justru berisiko melahirkan krisis sosial-ekologis yang berkelanjutan.
Eksplorasi panas bumi, yang mengubah lahan pertanian dan perkebunan menjadi wilayah kerja panas bumi, telah memicu privatisasi aset dan mengganggu mata pencaharian tradisional masyarakat lokal.
Perubahan pola penggunaan lahan ini bukan hanya menghapus sumber ekonomi komunitas agraris, tapi juga memperbesar ketimpangan sosial.
Konflik agraria yang berkepanjangan kerap muncul akibat ketidaksesuaian antara kepentingan ekonomi proyek dan hak-hak warga atas tanah.
Tak hanya itu, konversi lahan turut menciptakan kompetisi terhadap sumber daya air permukaan, memperumit tata kelola lingkungan dan memperdalam ketegangan sosial.
Berangkat dari kondisi itu, berbagai pihak di lingkungan Gereja menegaskan bahwa eksploitasi energi geothermal perlu dipahami sebagai salah satu penyebab tak langsung meningkatnya migrasi, baik internal maupun keluar daerah.







