Eksploitasi Energi dan Ancaman Migrasi: Seruan Bijak dari Keuskupan Agung Ende

perpas1

Kehilangan akses terhadap tanah dan air menjadi pendorong utama perpindahan penduduk, khususnya kaum muda, yang tidak lagi melihat masa depan di tanah kelahiran mereka.

“Pembangunan energi harus mempertimbangkan relasi alam dan manusia sebagai kesatuan, bukan sebagai dua entitas terpisah,” tegas RD. Evan Lando.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam semangat ensiklik Laudato Si  dari Paus Fransiskus, pendekatan terhadap pembangunan energi haruslah bersifat komprehensif, melibatkan semua pemangku kepentingan, serta peka terhadap kondisi sosial, budaya, dan ekologis lokal.

Pemilihan sumber energi seperti matahari, angin, dan biomassa perlu dikaji secara serius sebagai alternatif yang lebih kontekstual dan minim dampak negatif bagi masyarakat.

Mengutip kembali Laudato Si’, RD. Evan mengingatkan bahwa tidak ada dua krisis yang terpisah, lingkungan dan sosial, melainkan satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks.

Solusinya, tegas RD Evan, bukan dalam sekadar teknologi atau investasi, melainkan pada pemulihan martabat manusia, penghapusan kemiskinan, dan pelestarian bumi yang menjadi rumah bersama.

Sebagaimana diketahui, Perpas XII Regio Nusra di Larantuka berlangsung dari tanggal 1-5 Juli 2025. Selain 9 keuskupan Regio Nusra, dalam kegiatan tersebut hadir juga delegasi Keuskupan Pangkalpinang (keuskupan transit migran-perantau) dan delegasi Keuskupan Sandakan, Keningau dan Kota Kinabalu, Malaysia (keuskupan tujuan migran-perantau).

Perpas XII Regio Gerejawi Nusra dihadiri oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maximus Regus, Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku dan Uskup Weetebula, Mgr. Edmundus Woga.

Pos terkait