Sebaliknya, bagi warga kedatangan pemimpin adalah tanda, bukti bahwa mereka tidak sendiri. Mereka punya pemimpin. Pemimpin yang mau menyerap aspirasi mereka. Aspirasi langsung dari bawah.
Itu sebabnya, apresiasi dari warga atas kunker VBL itu terlihat dari wajah-wajah masyarakat yang sumringah. Senang bisa melihat langsung sosok wajah pemimpin mereka. Suara ungkapan apresiasi terdengar di beberapa titik. “Kalau kami tahu dia seperti ini, kenapa dulu kami tidak pilih dia saja,” kata seorang warga Manggarai Barat di sela-sela tatap muka dan mendengar pokok pikiran yang dikemukakan VBL.
Seperti biasa di setiap kesempatan dialog atau tatap muka dengan warga, VBL selalu meniupkan spirit perjuangan untuk bangkit bekerja dan maju menenun hidup. Tidak ada pemerintah yang tidak ingin rakyatnya sejahtera. Kesejahteraan itu tidak jatuh dari langit. Kesejahteraan itu harus diperjuangkan melalui kerja keras, kerja terencana dan kerja sistematis.
Karena itu narasi pidato, pernyataan-pernyataan, ajakan-ajakan VBL dalam kunker ini lebih kuat bernuansa imperatif. Perintah. Perintah untuk bangkit. Bangkit untuk bekerja. Bekerja untuk mengangkat harkat dan martabat diri. Harkat dan martabat diri sebagai orang yang seharusnya bisa sejahtera.

“Sebagai gubernur saya diperintah oleh Tuhan dan rakyat NTT untuk membawa kesejahteraan masyarakat NTT. Kalau berbeda saya tidak ada urusan. Mau demo silakan, saya tidak takut,” tegas VBL di depan masyarakat di Lingkungan Lawara, Kecamatan Reok, TPI Reo, Kabupaten Manggarai, Rabu (24/6/2020) pagi.







