Batas antarkabupaten dijaga ketat. Diperiksa setiap pelintas batas. Bahkan antardesa juga dijaga. Dipasang portal. Bandara ditutup. Pelabuhan laut juga sama. Ditutup dari kapal luar. Mungkin berlebihan. Tetapi pesannya sama. Tidak mau kecolongan virus ini.
Aktivitas sosial kemasyarakatan dihentikan. Ibadat keagamaan ditiadakan. Sekolah ditutup. Anak-anak sekolah belajar dari rumah. Ujian secara daring. Mal, restoran, hotel ditutup. Perusahaan-perusahaan merumahkan karyawan. Pegawai Negeri Sipil tidak masuk kantor. Work from home. Kerja dari rumah.
Semua larangan, pembatasan ini cuma bermaksud satu : lawan Covid-19. Dan hasilnya kita rasakan. NTT termasuk daerah dengan angka kasus positif paling kecil di Indonesia.
Dari data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional di NTT hingga hari Minggu (19/7/2020) terdapat 134 kasus terkonfirmasi Covid-19, yang sembuh 106, meninggal dunia 1 orang, masih dirawat 27 orang. Pemegang rekord dipegang Jawa Timur dengan kasus sebanyak 18.033 disusul DKI Jakarta sebanyak 16.236 kasus.
Dari data ini terlihat kerja keras, kerja serius dari semua stakeholder di NTT berbuah manis. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid- 19 NTT, juga di semua kabupaten, perlu diberi apresiasi tinggi.
Di provinsi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid- 19 bekerja tanpa lelah dan jemu. Setiap hari memantau. Melakukan sosialisasi. Menangani dan melakukan apa saja melawan Covid-19. Setiap hari Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dr. drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes, didampingi Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si, dua kali mengumumkan update data Covid-19 di NTT. Pengumuman pertama pukul 15.00 Wita. Kedua pukul 21.00 Wita. Pengumuman ini setiap hari. Tanpa henti. Tanpa mengharapkan pujian, apalagi tambahan penghasilan semisal uang lembur.







