Pertama, orang yang sudah kalah biasanya tidak mau maju lagi. Kedua, orang yang sudah kalah itu mau tetapi tidak ada yang mau dukung lagi.
“Tetapi sekarang ini berbeda. Saya masih mau dan warga juga masih mau. Kenapa masih mau? Karena semua kecewa. Kecewa karena tidak ada perubahan,” jelas Hery disambut tepuk tangan.
Rakyat Manggarai, kata Hery, kecewa karena tidak ada perubahan yang terjadi. “Kita ini rugi empat tahun karena tidak ada pembangunan yang terlihat. Pada pemerintahan baru nanti, kami tidak muluk-muluk. Kami ingin kembalikan jalan yang rusak di mana-mana seperti pada masa Pak Chris Rotok pimpin Manggarai. Mengapa begitu? Supaya rakyat jangan lama di jalan karena jalan rusak. Rakyat harus lama di kebun,” ungkap Hery.
Harapan lain dari warga, ungkap Hery, adalah orang lain, orang baru yang pimpin Manggarai. “Orang mau baju baru. Ganti baru. Itulah perubahan. Bagi paket H2N, perubahan itu artinya ganti bupati. Itu yang dimaksudkan orang Manggarai perubahan. perubahan artinya ganti bupati,” jelas Hery.
Kepada warga Manggarai, Hery mengatakan, seorang bupati itu sangat menentukan nasib rakyat. “Bupati menentukan apakah jalan baik atau tidak, bupati menentukan apakah ibu melahirkan selamat selamat atau tidak, bupati menentukan apakah listrik nyala atau tidak,” beber Hery.
Tetapi, kata Hery mengingatkan, ganti bupati itu bukan sekadar ganti dengan orang baru. “Kenapa harus ganti? Ganti karena kalau 15 tahun itu sudah capek. Orang yang sudah 15 tahun itu sudah capek untuk pikir. Tidak cepat berpikir lagi, tidak cepat lari lagi. Seperti main bola. Kalau di menit 80 itu pemain sudah capek, lelah. Tetapi tidak ada pemain yang mengaku capek, pemain mengaku masih bisa. Padahal yang melihat dia capek itu penonton. Penonton itu rakyat,” urai Hery.







