Ia mengembangkan pertanian dengan metode irigasi tetes di kebun IMPEKMA setelah menjalin kerja sama dengan Keuskupan Maumere.
“Lokasi ini sebagai tempat agrowisata dan pusat pembelajaran bagi teman-teman muda milenial. Kita ingin memberikan edukasi kepada anak-anak muda karena pertimbangan kita hari ini petani kita umur rata-rata di atas 40 tahun. Kalau 10-15 tahun kemudian tidak ada yang ingin menjadi petani, lalu siapa yang akan menjadi petani,” ujarnya menggugat.
Merespon harapan dan dukungan itu Melki Laka Lena mengaku kagum dengan terobosan yang digagas Yance Maring.
Menurut Melki, apa yang dilakukan Yance Maring dan para petani milenial di lokasi itu seakan mewujudkan mimpinya. Karena, salah satu dari delapan program strategis DPD I Golkar NTT adalah membangun petani milenial.
“Bagi saya, ini perfecto, ada untuk pembelajaran, ada untuk agrowisata dan ada untuk betul-betul murni produksi. Saya pikir ini salah satu mimpi saya yang digaungkan dalam rapat Golkar NTT. Saya senang hari ini saya sampai di lokasi ini. Karena petani milenial adalah salah satu dari delapan program strategis Golkar NTT di periode kepemimpinan kami,” katanya.
Melki mengatakan, gagasan dan kerja besar yang dilakukan Yance Maring dan para petani milenial di Sikka membuktikan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu kebanggaan karena dimotori oleh anak muda milenial.
“Saya sangat tertarik dengan inisiatif Bung Yance Maring yang membuat kebun agrowisata, kafe sekaligus tempat produksi pertanian. Saya juga berterima kasih atas dukungan teman-teman petani milenial Sikka untuk saya maju menjalankan penugasan sebagai Gubernur NTT. Dukungan ini menambah lagi energi kami untuk makin serius menjalani penugasan ke depan,” jelas Melki yang juga Wakil Ketua Komisi IX DPR RI ini.







