Pembicara lain, RD Max Regus, imam Katolik yang juga Dekan Fakultas Keguruan Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng membedah kiprah gereja setelah satu abad membumi di tanah Manggarai ini. Banyak pertanyaan reflektif diajukannya, mengapa berbicara tentang kiprah Gereja, bagaimana Gereja lebih berkiprah setelah satu abad ini?
“Banyak soal yang belum terselesaikan dalam kurun waktu itu. Misalnya kecemasan. Sifat kegelisahan adalah rasa cemas yang saya rupakan sifat pribadi/bawaan (sifat pencemas). Sifat kecemasan adalah suatu predisposisi untuk mempersepsikan situasi lingkungan yang mengancam dirinya,” kata Regus.
Regus juga menjelaskan tentang tipe kepribadian pencemas antara lain: cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang, dulu-was /khawatir, kurang percaya diri, gugup/demam panggung, tidak mudah mengalah atau ‘ngotot’, gerakan sering serba salah, tidak tenang dan gelisah, sering keluhan, khawatir berlebihan terhadap penyakit, mudah tersinggung, suka membesar-besarkan masalah kecil (dramatisasi), sering bimbang dan ragu dalam mengambil keputusan, sering histeris saat emosii, untuk itu Gereja diharapkan dapat menjadi penyeimbang.
Sementara itu Gracia Paramitha lebih menyoroti tentang kesimbangan antarmanusia dengan lingkungan.
Menurutnya, tradisi Kristen dan Yahudi meyakini bahwa memelihara ciptaan Tuhan adalah satu tugas yang Tuhan percayakan kepada manusia: “Dan Tuhan menempatkannya di Taman Eden untuk bekerja dan memelihara taman itu,” tegas Gracia.







