Menakar Rocky Gerung (Sebatas Tendangan Sudut)

kons beo 1

Bagaimanapun, baru seminggu ini Rocky dilantik. Badai kritik telah menderu dalam hukum logika populer tak terbendung. Ramaikan medsos. Lahirkan diskusi serius pun yang abal-abal.

Tetapi, sepatutnya Rocky mesti dipahami pula, walau tentu, tak harus dibenarkan (mutlak). Biarlah dalam pengandaian, opini atau tafsiran a la kadar setipis debu. Dan biarlah pula semuanya dikemas dalam litania pertanyaan atau mempertanyakan. Tanpa penghakiman.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Mungkinkah sesuatu yang tajam dan keras masih datang dari Rocky, atau apa yang bakal terjadi padanya, sebab ‘tangan kekuasaan telah bersamanya?’
Mungkinkah Rocky tetaplah seperti itu, tanpa kepalsuan? Ataukah karena telah ‘dikandangkan’ dalam Wantimpres ia bakal menjadi ‘jinak, domestic atau penurut?’ Atau seturut bingkai kata-katanya sendiri, ‘Apa Rocky dalam pikirannya bakal sopan santun dan terkekang dalam kebebasan berpikir? Dan karena itu ia sebenarnya lagi dituntun ke jurang kemunafikan?’

Tentu Publik tetap menanti gebrakan substansial Rocky dalam lingkaran kekuasaan, setidaknya dalam Wantimpres itu? Sekiranya suaranya mesti berdaya, “Jika Ya katakan Ya, bila Tidak bilanglah Tidak” semuanya atas dasar kebaikan bersama. Demi kepentingan Bangsa dan Negara. Demi rakyat dan ibu pertiwi.

Kiranya sikap suara Rocky berdaya ‘garam dan terang’ dalam Wantimpres itu, yang sekian varian dalam latar belakang, yang tentunya berbeda sikap, pandangan, nalar-alur politik dan kepentingan tersendiri. Bayangkan saja bahwa Rocky bakal ‘berserius atau bersendagurau’ dengan Mohammad Qodari, atau dengan ‘Paman’ Anwar Usman, misalnya.

Pos terkait