Berkidung dan bermazmur, kata Mgr. Sensi, adalah ungkapan iman atas kehendak Tuhan dalam hidup kita. Berkidung dan bermazmur juga adalah salah satu tradisi seni dalam Gereja Katolik.
“Dalam kidung dan mazmur kita bisa memuji Tuhan, kita bisa mengeluh pada Tuhan, juga mengungkapkan tobat hati kita,” imbuhnya.
Sebagai komunitas, lanjut Mgr. Sensi, kita juga dituntut untuk berpartisipasi dalam perkembangan dan kemajuan bangsa. Pasalnya, dalam sejarah bangsa sudah terbukti bahwa umat Katolik sebagai salah satu komunitas bangsa punya andil bagi perkembangan bangsa.
“Sikap saling menghargai, saling merangkul, saling mendukung dalam hidup bernegara. Inilah moderasi beragama yang ingin kita dorong melalui Pesparani ini. Kita ingin mempersembahkan yang terbaik dari khazanah iman kita,” sambungnya.
Sementara Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, dalam sambutannya membuka Pesparani secara resmi meminta masyarakat NTT khususnya umat Katolik di NTT agar menjadikan NTT sebagai pusat toleransi dogmatis.
“Jadilah Indonesia seratus persen dan jadilah orang Katolik seratus persen serta jadilah orang NTT yang baik menuju Nusantara. Jadikanlah NTT sebagai pusat toleransi agar saling menghargai dalam kehidupan beragama,” tegas Nae Soi.
Lanjut Nae Soi, Pesparani II NTT menjadi bukti nyata bahwa NTT sangat toleran. Karena pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk umat agama lain.
Nae Soi berpesan agar peserta Pesparani berlomba bukan untuk mencari kemenangan tetapi mencari kegembiraan, memupuk toleransi, dan persaudaraan.







