Oleh Pater Kons Beo, SVD
Kawan ku…
Sepantasnya ‘Tuhan dan kekuasaanNYA’ jangan diborgol dan dikurung dalam ‘hanya mau-maunya kita.’
Maksudku, kawan….
Biarlah Kuasa dan Nama Tuhan jadi nyata dalam siapapun yang berkehendak baik serta yang berbuat demi kemanusiaan dan kebaikan bersama. Tuhan tak sedang dijujat dan dilecehkan saat, atas NamaNya, kebaikan, kebenaran dan kehidupan dimuliakan dan diperjuangkan.
Kawan ku…
Orang itu tengah nyatakan kemuliaan Tuhan saat ia mengusir setan demi Nama Tuhan’ (cf Mrk 9:38.39). Tuhan ada bersamanya sebab ia tidak sedang melawan Tuhan dalam kebaikan dan kebenaran.
Kawan ku….
Kuingin himbau padamu. Tak usalah kau murung, bermuram hati, serta dilanda rasa irihati yang sengit sekiranya ada saudaramu yang berbuat baik. Yang maju dan berkembang demi kebaikan bersama dan demi nilai-nilai kehidupan. “Janganlah kau mencegahnya…”
Kawan ku….
Ada yang kucemaskan dalam dirimu, iya juga tentang diriku sendiri. Itu sekiranya kita berdua tengah diracuni oleh apa yang disebut ‘nafsu kemurnian sendiri.’ Artinya?
“Hanya kita-kita sajalah yang saleh, yang pantas, yang layak, yang benar, yang lurus, yang merasa berkenan di hadirat Tuhan. Yang lainnya, ‘yang bukan kita’ itu sepantas dan semestinya dicegah.
Kawan ku….
Ada hal lain lagi yang kucemas dan wajib kita seriusi. Renungkanlah! Kita sekian sengit dan punya waktu untuk ‘mencegah sesama-sesama kita yang kita anggap tak pantas dan bukan pengikut Tuhan.’
Kawan ku…
Camkanlah sungguh-sungguh!
Tidak kah kita tetap berselera untuk ‘tak melayakkan sesama?’ Iya, sampai-sampai kita sendiri kehilangan banyak kesempatan untuk mestinya berbuat baik dan memuliakan Tuhan. Dalam Sembah Sujud dan doa-doa kita?Maka, mari kita hentikan sudah bicara dan aksi ‘cegah-cegah sesama yang berbuat demi kebaikan.’






