Oleh Yoseph P Seran
Suara gemericik air mengalir bersahut-sahutan di antara petak-petak sawah. Di atas pematang, petang perlahan pamit menjemput malam.
Dari arah barat petak sawah, Nando Nahak (29 tahun), seorang petani milenial sedang asyik mencabut ilalang di antara rimbunnya hijau padi di Dusun Lo’okmi, Desa Motaulun, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan kaki telanjang dibalut lumpur hitam, Nando melangkah keluar dari petak sawah. Tangannya menggenggam beberapa helai gulma yang baru saja dicabutnya karena mengganggu tanaman padi.
Tampak daun padi menghijau, subur dan berbaris rapi. Ketinggian padi sudah melewati lutut orang dewasa. “Umur padi sudah mencapai tiga puluh enam hari. Target sembilan puluh dua hari lagi akan panen, jika tak ada halangan atau terjadi bencana alam,” ungkap Nando kepada kabarntt.id, Sabtu (22/2/2025).
Pria lulusan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu meniti karirnya di dunia pertanian sejak menamatkan kuliahnya tahun 2019 silam.
Tidak hanya menggarap lahannya sendiri. Berbekalkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi, Nando hadir sebagai seorang guru yang mampu memberi pencerahan bagi para petani tentang dunia pertanian. Paling kurang, meminimalisir gaya pengolahan lahan secara tradisional menjadi lebih modern di beberapa desa itu.
Pola penggarapan lahan dan proses penanaman hingga perawatan dilakukan secara modern. Mulai dari persediaan bibit, pemupukan, penyemprotan, dengan tujuan agar proses pertumbuhan padi lancar dan terhindar dari gangguan hama.







